Info Terkini
Rabu, 24 Jul 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
2 Februari 2023

Joko Tingkir dan Wahdatul Wujud

Kamis, 2 Februari 2023 Kategori : Qolamunetizen / Sejarah

Nama Joko Tingkir sempat menjadi sorotan publik akhir-akhir ini setelah beredar lagu ‘Joko Tingkir Ngombe Dawet’ dari kanal YouTube asal Lampung, lagu tersebut kembali viral setelah dijadikan latar berbagai video yang diunggah pada akun TikTok. Sontak viralnya lagu tersebut menuai pro kontra dikalangan masyarakat Indonesia. Lantas siapakah sosok Joko Tingkir ini?

Joko Tingkir atau yang bernama asli Hadiwijaya merupakan salah satu tokoh yang mewarnai sejarah kerajaan Demak dan Pajang. Hadiwijaya merupakan putra dari Ki Ageng Pengging dan Nyai Ageng Pengging. Ketika umur 10 tahun Hadiwijaya sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya yang meninggal dunia. Ia kemudian di asuh oleh seorang Janda yang bernama Ni Ageng Tingkir, tempatnya dilereng Gunung dekat Salatiga Jawa Tengah, karenanya dia bernama Jaka Tingkir (pemuda dari Tingkir) maka sejak itulah nama Joko Tingkir mulai disematkan kepada Hadiwijaya.

Perjalanan karir politik Joko Tingkir berawal ketika beliau hijrah ke ibu kota Demak. Dalam babat Tanah Jawi dijelaskan bahwa Joko Tingkir tinggal di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) beliau kemudia menjadi prajurit kerajaan Demak. Karena Joko Tingkir pandai menarik simpati Sultan Trenggana sehingga ia akhirnya diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.

Florida Nancy dalam Menyurat yang Silam Menggurat Yang Menjelang, terjemahan dari Writing the Past, Inscribing the Futere History as Prophecy in Colonial Java (2003) menyatakan bahwa ketika Sultan Trenggono sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang sudah diberi mantra. Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan Sultan di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya. Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Sultan Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.

Purwadi dalam The History of Javanese Kings-Kisah Raja-Raja Jawa (2010) menyatakan bahwa Joko Tingkir melakukan sekenario kerusuhan di Demak, dan ia kemudian tampil sebagai pahlawan yang meredakannya. Karena hal itu, Joko Tingkir pun mendapatkan simpati kembali dari Sultan Trenggono. Yang kemudian Joko Tingkir diangkat sebagai bupati Pajang bergelar Adipati Hadiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggana.

Pada tahun 1546 Sultan Trenggono wafat, putranya yang bergelar Sunan Prawoto naik takhta menjadi penguasa Demak. Sunan Prawoto mewarisi Demak sebagai kerajaan yang memiliki pengaruh kuat di Nusantara. Beliau bercita-cita melakukan perluasan wilayah Demak seperti yang dilakukan oleh ayahnya yaitu Sultan Trenggono. Akan tapi Sunan Prawoto tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) pada tahun 1549.

Setelah membunuh Sunan Prawoto, Arya Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Joko Tingkir di Pajang, namun usaha tersebut gagal dilakukan Justru Joko Tingkir malah menjamu para pembunuh utusan Arya Penangsang itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang. Adipati Hadiwijaya sesungguhnya enggan melawan Arya Penangsang karena bagaimanapun Arya Penangsang adalah cucu dari Raden Patah sedangkan dirinya hanya anak menantu, Namun karena Arya Penangsang mencoba melakukan pembunuhan kepada Joko Tingkir, maka Joko Tingkir mengutus Sutawijaya untuk memerangi Arya Penangsang.

Raden Sutawijaya berhasil menewaskan Arya Penangsang, dengan demikian Joko Tingkir menjadi penguasa mutlak. Ketika Joko Tingkir ini menjadi penguasa, beliau memindahkan pusat pemerintahan dari Demak ke Pajang, dengan demikian dinasti kerajaan Demak pun berakhir pada tahun 1568 dan digantikan oleh kerajaan Pajang.

Penyebaran Wahdatul Wujud serta terpengaruhnya Joko Tingkir

Membahas mengenai penyebaran wahdatul wujud di Nusantara tentu tidak akan terlepas dari sosok tokoh yang bernama Siti Jenar, Siti Jenar disinyalir penganut pemikiran al ittihad abu yazid al bustami yang gabungkan dengan pemikiran  al hulul abu husain al hallaj. Perbedaan ittihad dengan hulul, kalau ittihad itu Allah dan hambanya itu melebur menjadi satu, sedangkan hulul itu meyakini Allah meresap kepada makhluk. Dua ajaran tersebut (ittihad dan hulul) diperparah penyimpangannya oleh Ibnu Arabi menjadi ajaran yang bernama Wahdatul Wujud. Inilah ajaran yang dibawa oleh Siti Jenar ke tanah Jawa.

Kisah sejarah Siti Jenar atau yang disebut Lemah Abang juga tertulis dalam dokumen Kropak Ferrara (kitab rujukan utama sejarah wali songo) artinya sosok Siti Jenar ini adalah nyata beliau adalah manusia historis bukan manusia fiktif. Penyebaran ajaran Siti Jenar ini didalam perjalanannya mendapatkan pengikut yang banyak bahkan ayah dari Joko Tingkir yaitu  Ki Ageng Pengging merupakan salah satu murid dari Siti Jenar. Maka dari itu Ki Ageng Pengging merupakan salah satu tokoh bersama Siti Jenar yang menyebarkan ajarah Wahdatul Wujud.

Penyebaran ajaran Wahdatul Wujud yang dilakukan Ki Ageng Penggih ini mendapatkan respon yang baik dari masyarakat khususnya wong cilik. Sebab Ki Ageng Pengging membela orang-orang Pinggiran, dengan hidup menjadi petani biasa maka simpati terhadapnya semakin meluas. Pesona Ki Ageng Pengging kian bersinar hingga membutahkan para petinggi Demak. Dengan dalih sebagai penyebar dari ajaran Wahdatul Wujud, maka Ki Ageng Pengging dianggap halal darahnya.

Agus Wahyudi dalam Joko Tingkir : Berjuang Demi Taktha Pajang (2009) Keputusan rapat kesultanan Sunan Kuduslah yang diutus untuk melakukan hukuman mati tersebut. Hal ini sama dilakukan juga oleh Sunan Kudus kepada Siti Jenar, sebab baik Siti Jenar maupun Ki Ageng Pengging sama-sama menyebarkan ajaran sesat yaitu Wahdatul Wujud, sehingga mereka berdua dijatuhi hukuman mati.

Walaupun Siti Jenar sebagai pemimpin dari aliran Wahdatul Wujud di tanah Jawa telah dihukum mati oleh Wali Songo karena kesesatan ajarannya, akan tetapi murid-murid dari Siti Jenar ini masih melakukan penyebaran ajaran sesatnya secara sembunyi-sembunyi. Hal tersebut dilakukan oleh salah satu murid Siti Jenar yaitu Ki Ageng Banyubiru, Joko Tingkir berguru pada Ki Ageng Banyubiru (saudara seperguruan ayahnya) maka karena sebab itulah Joko Tingkir menganut aliran Wahdatul Wujud manunggaling kawula gusti.

Apa Itu Ajaran Wahdatul Wujud?

Ajaran Wahdatul Wujud manunggaling kawula gusti adalah ajaran yang meyakini bahwa segala wujud yang ada ( seperti manusia, hewan, malaikat, jin, tumbuhan, bumi, langit, surga, neraka, dll) itu adalah allah swt alias semuanya perwujudan yang ada ini adalah allah swt. Keyakinan seperti itu menyebabkan seorang Muslim keluar dari ajaran Islam (Kafir).

Berbeda halnya apabila meyakini bahwa segala wujud yang ada ( seperti manusia, hewan, malaikat, jin, tumbuhan, bumi, langit, surga, neraka, dll) itu adalah milik allah swt maka itu keyakinan yang benar, akan tetapi apabila meyakini segala perwujudan yang ada ini adalah allah swt, itu sama saja meniadakan sifat Khaliq pada Allah swt ( disembah) dan Sifat makhluk ( yang menyembah).

Ajaran Wahdatul Wujud ini menjadi ajaran yang dianut oleh mayoritas masyarakat pada zaman Kerajaan Pajang, Mataram Islam, bahkan sampai saat ini ajaran Wahdatul Wujud menjadi ajaran mayoritas yang dianut oleh masyarakat di Indonesia. Semoga Allah swt memberikan taufik dan hiyadayahnya kepada kita semua agar terhindar dari ajaran tersebut.

 

Tulisan Lainnya

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 7 8 6
Total views : 10736
Salam Silaturahmi