Info Terkini
Minggu, 28 Mei 2023
  • Mari merdeka dengan terus berkarya. Terbitkan karyamu di Rumah Literasi Publishing
2 Februari 2023

Roem: Ditembak hingga Cacat

Kamis, 2 Februari 2023 Kategori : Founder Way / Naufal A.

Beberapa kelompok pemuda Indonesia bersiaga di setiap penjuru Jakarta. Seraya menenteng senjata yang telah dilucuti dari tangan serdadu-serdadu Jepang, mereka bersiap-siap untuk menghalau serdadu-serdadu Belanda yang semakin liar.

Desingan peluru nyaris terdengar sepanjang waktu di setiap sudut Jakarta pada bulan November 1945. Situasi Republik Indonesia, khususnya Jakarta memang sedang tidak kondusif pada saat itu. George McTurnan Kahin dalam Nasionalisme dan Revolusi Indonesia (2022), menyatakan bahwa pertempuran berskala luas terus menerus berkobar di hampir seluruh Pulau Jawa, sebagian Sumatra, dan Bali pada bulan November-Desember 1945.

Pertempuran di Jakarta tidak begitu besar jika dibandingkan dengan Surabaya. Akan tetapi, bagaimana pun juga, pertempuran tetaplah pertempuran. Baku tembak antara serdadu Belanda dengan para pejuang Indonesia telah menimbulkan banyak korban jiwa, bukan saja antara kelompok yang sedang bertikai, bahkan rakyat sipil pun turut meregang nyawa.

Potret M. Roem

Seorang pria bernama Mr. Mohamad Roem (1908-1983) tercatat menjadi korban penembakan serdadu Belanda. Sosok yang kelak terkenal karena namanya diabadikan dalam sebuah karya diplomatik, yaitu Perjanjian Roem-Van Roijen, ini menjadi orang yang turut merasakan keganasan serdadu Belanda di Jakarta.

Insiden tersebut terjadi empat tahun sebelum Roem menorehkan Perjanjian Roem-Van Roijen. Saat itu, Roem baru saja bekerja sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Jakarta. Ia menjadi sosok yang mendampingi Suwirjo yang kala itu menjadi Walikota Jakarta.

Roem bersama Suwirjo juga bekerja sebagai Contact Comittee. Di badan ini, ia dan Suwirjo bekerja dengan perwira-perwira Inggris. Badan ini bekerja untuk bersama-sama memulihkan situasi keamanan di Jakarta. Kantor badan ini berkedudukan di Gedung Recht Hoge School (RHS) yang berlokasi di Jalan Merdeka Barat.

Roem Hampir Tewas

Penembakan terhadap Roem terjadi di rumahnya pada 21 November 1945. Kronologi mengenai peristiwa ini disampaikan Roem dalam biografinya yang disusun oleh Soemarso Soemarsono berjudul Mohamad Roem 70 Tahun (1978).

Insiden ini terjadi setelah Roem menghadiri prosesi pemakaman 13 jenazah anggota kepolisian Indonesia di Kawi-Kawi. Jenazah-jenazah itu adalah korban serangan serdadu-serdadu Belanda ketika sedang menyerbu markas Polisi Seksi IV di Jakarta.

Rumah Roem terletak di Jalan Kwitang No. 10. Sesampainya di rumah, ia kemudian makan siang bersama keluarga dan koleganya. Orang-orang yang hadir di rumah Roem siang itu adalah istri Roem, Adik Salim, Islam Salim, Pirngadi, Sayoga, keponakan Tasni, dan Piet Ngadimin.

Suasana tenang di dalam rumah berubah seketika tatkala terdengar teriakan dari luar yang menyatakan kedatangan gerombolan serdadu Belanda. Otomatis, orang-orang di dalam rumah berhamburan mencari tempat perlindungan.

“Yang hadir di rumah yang laki-laki dan Adik Salim semuanya cepat menyelamatkan diri, lari ke belakang meloncati tembok rumah. Saya dan Ibu Roem, Tasni, dan Sayoga segera masuk ke dalam kamar tidur, dan pintunya kami tutup dari dalam.”, tutur Roem.

Gereombolan serdadu Belanda itu rupanya masuk ke dalam rumah Roem. Tatkala serdadu-serdadu itu sibuk menggeledah seisi rumah, Roem berteriak dari dalam kamar menyatakan bahwa di rumahnya tidak ada persenjataan. Kemudian, Roem memberanikan diri keluar ruang kamar, lalu berdiri tepat di muka pintu kamar.

Roem yang sedang berdiri di muka pintu kamar tiba-tiba ditodong senjata oleh serdadu Belanda lantas, “dor!” ditembak. Timah panas yang keluar dari senapan serdadu itu menembus ke bagian bawah perut, antara paha dan bokong bagian kanan.

“Saya terjatuh, terus pingsan, rasanya waktu itu seperti ajal sudah sampai.”, ujar Roem.

Darah berlumuran di sekitar tubuh Roem yang tak berdaya. Istri Roem dan Tasni mengira Roem telah tewas, sementara, Sayoga yang pada siang itu sedang ikut bersantap siang di rumah Roem dibawa keluar rumah oleh sekelompok serdadu itu dan tidak pernah dikembalikan lagi.

Dalam keadaan tak sadarkan diri, Roem dievakuasi oleh sekelompok pemuda Gang Kwitang setelah serdadu-serdadu Belanda tersebut meninggalkan rumah Roem. Ia segera dilarikan ke dr. Maskawan, di Gang Kernolong untuk mendapatkan pertolongan darurat. Istri Roem saat itu, setia berada di sisi suaminya yang hampir tewas.

Roem Mengalami Perawatan Intensif

Roem mendapatkan perawatan intensif setelah dilarikan ke RS. CBZ (RS Umum Pusat). Di sana, Roem harus diopname dalam jangka waktu yang sangat lama. Ia juga sempat ditengok oleh Walikota Suwirjo dan pihak Inggris di RS. CBZ.

Setelah selesai menjalani perawatan di RS. CBZ, Roem dibawa menuju Kebumen, Jawa Tengah.

“Saya dirawat di C.B.Z selama 70 (tujuh) puluh hari, kemudian ke Kebumen, ke Dokter Gularso di sana untuk beristirahat dan meneruskan pengobatan.”, kata Roem.

Keadaan Roem berangsur-angsur membaik setelah melewati fase penyembuhan yang intensif. Pada awalnya, Roem sudah mampu berjalan, hanya saja ia perlu menggunakan tongkat. Seiring waktu, akhirnya ia terbiasa berjalan tanpa menggunakan tongkat.

Roem mampu berjalan lagi seperti sediakala, namun keadaan fisiknya sudah tidak seperti semula. Timah panas yang menyasar bagian kanan antara paha dan bokongnya itu menyebabkan urat dan syaraf rusak dan terputus. Akibatnya, tumit kaki kanan beserta jari-jari Roem tidak terasa dan ukuran kaki kanannya lebih kecil daripada kaki kirinya.

Menolak Masuk Veteran Penderita Cacat

Keadaan fisik Roem yang tidak lagi normal akibat luka tembak itu, tidak sekali pun membuatnya putus harapan dan patah semangat. Bahkan, ia pernah diminta menjadi pimpinan Veteran Penca (Penderita Cacat), tetapi, Roem menolaknya.

Ketika ditanya mengenai alasannya, Roem menyatakan bahwa dirinya tidak senang apabila ketika bertemu sesama penderita cacat harus membicarakan masalah kecacatan.

“Saya berpendapat seharusnya tidak begitu. Lupakanlah cacad itu (kalau ada), dan berusaha sedapat mungkin sebagai orang normal. Saya merasa diri saya normal, saya masih bisa melakukan hal-hal biasa yang dilakukan manusia normal. Berjalan, berenang¬† berolahraga dan menyetir mobil”, tutur Roem.

Luka tembak yang bersarang di tubuhnya itu tidak dipandang Roem sebagai suatu kelemahan. Alih-alih menyesal karena fisiknya cacat, ia tetap berjuang menjalani hidup. Ia tetap mampu mencetak karir luar biasa, di antaranya ketika menjadi pimpinan delegasi diplomat dalam Perundingan Roem-Roijen (1949) dan saat dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri I pada Kabinet Ali-Roem-Idham (1956-1957).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 2 9 6 5
Total views : 7214
Salam Silaturahmi