Info Terkini
Jumat, 14 Jun 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
23 Maret 2023

Syahadat: Ikrar Kemerdekaan Jiwa

Kamis, 23 Maret 2023 Kategori : Agus S. Saefullah / Founder Way

Ahadun Ahad … Ahadun Ahad … Ahadun Ahad” Itulah kalimat yang terus teulang, terucap dan terpatri dalam jiwa Bilal bin Rabah. Hamba sahaya yang disiksa Umayyah bin Khalaf seorang kaya raya dari Bani Jumah yang tamak dan pemuja berhala.

Batu besar yang menindihnya, cambukan, bentakan, hinaan dan terik matahari yang mendidihkan keringat tak membuat Bilal goyah.

Meski raganya terpenjara dalam kekuasaan sang Majikan tapi hatinya tetap merdeka, benar-benar merdeka. Sebagai manusia biasa pasti Bilal sakit, perih, pedih dan merana. Namun tak sedikitpun rasa sakitnya itu mengubah tekadnya untuk tetap menjadi pengikut Nabi tercinta Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga ia dibebaskan oleh Abu Bakar ashidiq lalu menjadi Muadzin kesayangan Rasulullah.

Karena tauhid kepada-Nya Bilal seorang budak belian berkulit hitam menjadi mulia semulia suara terompahnya yang sudah terdengar di tanah surga.

Secara harfiah tauhid merupakan bentuk mashdar dari  fi’il wahhada-yuwahhidu yang berarti mengesakan – menetapkan hanya satu. Adapun secara istilahi berarti Meniadakan tuhan-tuhan lain dan menetapkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

Sebagaimana ditegaskan oleh Rib’i bin Amir saat ditanya oleh Panglima Rustum utusan Kisra Yazdegred III sebelum kaum muslimin berhadapan dengan Persia dalam Perang Qadisiyah (636 M). Rib’i bin Amir dengan tegas mengatakan”Allah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan terhadap sesama hamba menuju penghambaan kepada Sang pencipta. Membawa manusia dari sempitnya dunia menuju kelapangan dunia dan akhirat. Menyelamatkan manusia dari kezaliman agama-agama menuju keadilan yang diwujudkan oleh Islam.

Tauhid terucapkan oleh setiap manusia kala bersyahadat di hadapan-Nya. Sebuah persaksian yang Maha Besar, mengawali perjalanan hidup seorang makhluk yang diciptakan Al-Khalik.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Q.S. Al-A’raf 172)

Persaksian besar itu terjadi saat ruh-ruh diciptakan lalu masuk kedalam setiap jasad yang bertumbuh dalam kandungan. Maka lahirlah dalam keadaan fitrah. Fitrah yang berarti Islam.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kata fitrah sepadan dengan kata Al-khilqah (naluri kemanusiaan) dan thabiah (tabiat, watak, karakter). Kondisi ini adalah potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah. Posisinya selalu di posisi memerlukan Tuhan sebagai pelindung.

Fitrah merupakan kecenderungan untuk menerima kebenaran.” Kata Ahmad bin Mustafa bin Muhammad bin ‘Abd al-Mu’in a-Qadi al-Maraghi dalam catatanya pada “Tafsir Al-Maraghi”. “Sebab kebenaran fitrah manusia cenderung dan berusaha mencari serta menerima kebenaran walaupun hanya bersemayam dalam hati kecilnya.” Lanjutnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum: 30).”

Bagi setiap insan yang terlahir dari Ibu Bapak Muslim besar dan bertumbuh dalam pendidikan muslim tidak perlu ada proses syahadat masuk Islam lagi karena sejatinya sudah bersyahadat sebelum dilahirkan ke dunia. Berbeda dengan mereka yang lahir dari Ibu Bapak dan pengasuhan agama lain sehingga keluar dari agama Islam, maka masuk Islam kembali harus dengan ucapan syahadat di depan para saksi yang adil.

Asyhadu anla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah – Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

 

Sumedang, 1 Ramadan 1444 H

Penulis: Agus S. Saefullah (Dosen, Penulis dan Aktivis Literasi)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 5 9 5
Total views : 10418
Salam Silaturahmi