Info Terkini
Rabu, 24 Jul 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
17 Mei 2022

Belajar Hidup dari Prawoto Mangkusasmito

Selasa, 17 Mei 2022 Kategori : Founder Way / Naufal A.

“Pahlawan itu bukan ditentukan oleh tempat di mana dia dimakamkan, tetapi ditentukan oleh jasa-jasanya”, begitulah ucapan Mohamad Roem, seorang pejuang perunding ketika melepaskan jenazah bernama Prawoto Mangkusasmito ke dalam liang lahat.

Sosok yang dimaksud oleh Roem itu, selama hidupnya dikenal memiliki integritas tinggi dan mempunyai jasa yang cukup besar bagi tegaknya negara ini. Meski begitu, hari ini mungkin banyak orang yang tidak mengenal namanya apalagi riwayat hidupnya.

Jadi, sesungguhnya siapakah dan bagaimanakah riwayat Prawoto Mangkusasmito itu?

 

Siapakah Prawoto Mangkusasmito itu?

Prawoto Mangkusasmito (1910-1970) merupakan salah seorang negarawan Indonesia dan tokoh Islam yang terkenal karena kiprahnya menjadi nahkoda Partai Masjumi di saat-saat terakhir sebelum bubar karena palu godam kekuasaan rezim Orde Lama. Di samping itu, Prawoto juga pernah duduk sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Wilopo (1952-1953) dan Wakil Ketua Konstituante.

Prawoto dilahirkan di Tirto, Grabag, Magelang pada 4 Januari 1910 dari pasangan kekasih bernama Supardjo Mangkusasmito dan Suendah.

Sejak berusia belia, Prawoto sudah merasakan hidup hampir layaknya orang dewasa. Ia belajar hidup untuk tidak menyusahkan orang lain. Di saat itu pula, Prawoto harus melihat hubungan antara ayah dan ibunya yang tidak harmonis, akhirnya perceraian menjadi jalan yang harus ditempuh kedua orang tua kesayangannya itu.

Meski keadaannya demikian, bila diukur menurut kondisi zaman itu, Prawoto merupakan anak yang beruntung. Ia termasuk ke dalam segelintir anak dari kalangan bumiputera yang dapat duduk belajar di bangku sekolah Belanda. Mula-mula, Prawoto bersekolah di HIS, sekolah dasar Belanda pada 1917. Kemudian, ia lanjutkan ke jenjang MULO dan berhasil lulus pada 1928. Selanjutnya, Prawoto meneruskan studi di AMS B Yogyakarta dan mampu menyelesaikannya pada 1931.

Gairah Prawoto Mangkusasmito dalam menekuni studi benar-benar melambung tinggi. Walaupun, setamatnya dari AMS ia dinikahkan dahulu dengan seorang perempuan bernama Rabingah, Prawoto tetap bercita-cita melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Prawoto lolos menjadi salah satu mahasiswa fakultas hukum di Rehct Hoge School (RHS) sambil menafkahi keluarga kecilnya dengan menjadi guru di sebuah sekolah.

Sayang seribu sayang, Prawoto gagal meraih gelar Meester in de Recht (sarjana hukum). Bukan karena ketidak pandaiannya namun lantaran tentara Jepang membubarkan lembaga-lembaga pendidikan warisan Belanda. Kendati tidak menyandang gelar sarjana hukum, bukan berarti taraf penguasaan Prawoto terhadap ilmu hukum rendah. Justru, Prawoto terkenal karena kecerdasannya mengemukakan teori dan ketajaman analisisnya terutama sekali dalam perkara hukum.

Merintis Karir sebagai Aktivis

Di samping menekuni studi, Prawoto Mangkusasmito juga mencurahkan perhatiannya pada dunia pergerakan. Seperti anak-anak muda seangkatannya, Prawoto terlibat dalam organisasi pergerakan. Organisasi yang kali pertama menarik minatnya yaitu Jong Java, organisasi kepemudaan yang menghimpun orang beretnis Jawa.

Seiring menjamurnya organisasi serupa, terdengar kabar bahwa telah berdiri sebuah organisasi kepemudaan yang menghimpun kawula muda beragama Islam bernama Jong Islamieten Bond (JIB). Organisasi ini diprakarsai oleh sebagian aktivis Jong Java yang keluar karena kecewa usulannya untuk mengadakan kursus agama Islam dalam organisasi tersebut ditolak oleh sebagian besar aktivis Jong Java. Maka, setelah anak-anak muda Jong Java tadi berdiskusi dengan Haji Agus Salim, didirikanlah JIB di bawah pimpinan Sjamsurridjal yang juga adalah eks-Ketua Jong Java pada 1 Januari 1925.

Prawoto yang kala itu masih belia dan aktif di Jong Java termasuk golongan pemuda yang menaruh minat terhadap JIB. Ia bergabung dengan organisasi kepemudaan Islam tersebut dan mulai menjalin relasi dengan sejumlah aktivis seangkatannya maupun tokoh Islam yang berusia lebih tua darinya. Kelak, Prawoto ini termasuk dalam salah seorang aktivis kebanggaan JIB yang namanya disejajarkan dengan Mohammad Natsir, Mohamad Roem, dan Kasman Singodimedjo.

Tak hanya membatasi diri di JIB, Prawoto Mangkusasmito bergabung dengan organisasi keislaman lainnya. Organisasi yang dimaksud ialah Studenten Islam Studie-club (SIS), sebuah organisasi Islam yang para anggotanya terdiri atas kaum pelajar.

Sebagai kader dua organisasi di atas, tak mengherankan jika setelah dewasa Prawoto menjadi pemimpin besar yang cakap menganalisis juga memecahkan permasalahan. Ia menjadi bukti bahwa sifat kepemimpinan bukan hanya bawaan dari lahir, melainkan hasil dari proses penempaan diri yang panjang. Dari rahim kaderisasi itulah, seorang Prawoto Mangkusasmito lahir dan hidup menjadi pemimpin yang bersahaja.

Keteladanan Seorang Prawoto Mangkusasmito

Sepanjang hayatnya, Prawoto Mangkusasmito dikenal sebagai orang yang berkepribadian luar biasa. Predikat seperti ini bukanlah hasil penilaian dari satu atau dua orang saja, melainkan pada kenyataannya orang-orang yang bersahabat bahkan sekadar mengenalnya memberi kesaksian demikian.

S.U Bajasut dalam Alam Pikiran dan Jejak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito Ketua Umum (Terakhir) Partai Masyumi (2014) memuat sejumlah kesaksian orang-orang terhadap pribadi Prawoto.

Mohammad Natsir, seorang negarawan Indonesia sekaligus tokoh Islam terkemuka, menyatakan Prawoto Mangkusasmito sebagai figur demokrat yang sangat patut diteladani. Sebagai rekan yang lama dikenalnya berkiprah di Partai Masjumi maupun pemerintahan, Natsir menerangkan bahwa kendati banyak orang yang tidak sejalan dengan pikiran Prawoto. Tetapi, Prawoto tidak pernah merasa berkecil hati dengan perbedaan-perbedaan yang bermunculan tersebut.

“Malah, beliau menganggap perbedaan-perbedaan pendapat itu sebagai satu rahmat dan hikmah Tuhan…”, ungkap Natsir.

Sikap Prawoto yang menghargai keberagaman isi kepala bukan berarti ia orang yang lemah atau tidak memiliki pendirian. Menurut Zainal Arifin, Prawoto adalah sosok yang tidak segan-segan menuntut haknya sendiri jika yang diterimanya tidak sesuai. Namun, dalam hal ini, ia juga tidak menuntut haknya itu secara berlebihan.

Lain lagi dengan kesaksian di atas. Mochtar Lubis, wartawan yang pernah mendekam di tahanan era Orde Lama bersama Prawoto ini tertarik dengan gaya penampilan Prawoto yang selalu sederhana. Berbeda dengan kebanyakan tokoh besar Indonesia hari ini yang lebih suka mengenakan kemeja, jas, dasi, dan sepatu mewah.

Lubis menggambarkan Prawoto selaku pribadi yang berbadan relatif kurus identik dengan kumis, jenggotnya yang sedikit beruban, peci, kacamata, dan sarungan. Tak hanya itu, dalam uraiannya, Lubis juga mengenang Prawoto sebagai orang yang mudah tersenyum dan tertawa, ramah, berjiwa pejuang, serta penuh tanggungjawab.

Kesederhanaan hidup Prawoto tercermin manakala anaknya, Sri Sjamsiar, bercerita ketika ayahnya memenuhi undangan dari Presiden Sukarno ke istana. Saat itu, situasi negara sedang genting lantaran nasib Partai Masjumi yang dipimpin ayahnya sudah berada di ujung tanduk. Sri Sjamsiar menerangkan bahwa sebelum pergi, ayahnya meminta supaya disiapkan baju koko.

Rupanya, menurut Sri Sjamsjiar, Prawoto menghadiri undangan Presiden Sukarno di Istana Negara dengan mengenakan baju tersebut, sarung, sandal kulit, beserta kacamata dan peci yang selalu dipakainya. Kontras sekali dengan tamu undangan lainnya yaitu Sutan Sjahrir, Soebadio Sastrosatomo, dan koleganya sendiri, Yunan Nasution yang mengenakan kemeja, jas, dan celana.

Sri Sjamsiar kembali menceritakan bahwa ayahnya adalah orang yang sangat teliti menelaah sesuatu. Umpamanya, apabila ayahnya sedang menulis, Sri Sjamsiar seringkali diperlihatkan draf tulisannya kemudian Prawoto sendiri yang merapikan dan memperbaiki kata demi kata atau kalimat bahkan sampai ranah tanda bacanya.

Prawoto dikenang pula sebagai orang yang selalu menepati janji. Sebagaimana pernah disampaikan oleh seorang aktivis HMI, kala hendak diundang untuk memberi ceramah dalam acara Dies Natalis XII HMI di Ciputat pada 1969. Prawoto memberi syarat pada panitia agar acara dapat dimulai sesuai waktu yang telah ditetapkan.

“Bagi Prawoto, keterlamabatan sudah menjadi kebiasaan buruk masyarakat Indonesia sejak masyarakat biasa sampai ke acara resmi kenegaraan”, tulis S.U Bajasut.

Di balik kenang-kenangan di atas semua, Prawoto adalah pecinta kaum mustad’afien (orang-orang yang lemah). Ia sangat cinta terhadap mereka yang bekerja mencurahkan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan pangan kita sehari-hari yaitu kaum petani. Setelah, partai yang dipimpinnya bubar, Prawoto atas kesadaran pribadi bersedia memikul amanat sebagai Ketua Sarekat Tani Islam Indonesia (STII).

Selama mengemban amanat itu, waktu berkumpul Prawoto bersama keluarga di rumah seringkali harus dikorbankan demi memastikan kesejahteraan hidup dan kelancaran aktivitas para petani di sejumlah pelosok negeri.

Perhatian Prawoto kepada kaum petani mengalahkan perhatiannya pada kondisi fisiknya sendiri yang kian memburuk. Sebagai pribadi yang berintegritas, ia paksakan raga yang sedang mengalami tekanan darah tinggi untuk mengunjungi rakyat yang dicintainya di Banyuwangi.

Perginya Prawoto mengunjungi kaum petani di saat kondisi fisiknya yang buruk menjadi bukti nyata kecintaannya pada rakyat kecil. Padahal, sebelum berangkat, ia sempat dicegah oleh dr. Ali Akbar. Oleh sebab itulah, Mohamad Roem mengatakan Prawoto sebagai pribadi yang suka memberi kasih sayang namun tidak pernah meminta kasih sayang.

Dalam keadaan fisik yang dirasanya normal padahal sesungguhnya tidak, Prawoto menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang pada 24 Juli 1970 dini hari, di sela-sela waktu istirahat agenda kunjungan kepada kaum petani di sebuah daerah terpencil di ujung timur Pulau Jawa. Kepergiannya yang mendadak mengejutkan hati sahabat-sahabatnya.

Selama hayat Prawoto masih dikandung badan, ia tidak pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah atau otoritas tertentu. Ia juga tidak dikuburkan di kompleks makam pahlawan. Akan tetapi, beberapa tahun semenjak kepergiannya, makam Prawoto dipindahkan ke kompleks Taman Makam Pahlawan (TMP) dan Pemerintah Orde Baru menganugerahkan Bintang Mahaputera untuk Ketua Umum Terakhir Masjumi ini pada pertengahan 1990-an.

Demikianlah kesudahan golongan orang yang saleh. Ia tidak membutuhkan sama sekali penghargaan atau pengakuan atas dirinya sendiri. Ia hanya berprinsip dan beramal agar semuanya sejalan dengan keridaan Allah. Sehingga, manakala Allah rida dengan hamba-Nya, pada akhirnya Dia pula yang berkuasa memberikannya sebaik-baik penghargaan.

Tulisan Lainnya

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 7 8 6
Total views : 10736
Salam Silaturahmi