Info Terkini
Rabu, 24 Jul 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
10 Juni 2022

Mengejar Cahaya Ilahi

Jumat, 10 Juni 2022 Kategori : Khazanah dan Hikmah / Qolamunetizen

حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ، أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” ‌مَنْ ‌سَلَكَ ‌طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “

Artinya : dari Abi Hurairah r.a. telah berkata : telah berkata Rosulullah Saw, : barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan terhadap baginya jalan menuju syurga. (HR. Iman Ahmad)[1]

Hadist ini menujukan keutamaan orang yang mencari ilmu. olehkarnanya mencari ilmu merupan bagian penting dalam kehidupan. Karna orang yang diberi ilmu oleh Allah Swt lebih mulia dari pada orang yang diberi harta yang sifatnya hanya sementara. Buktinya orang yang mencari ilmu akan dibalas dengan kemudahan dalam menempuh jalan ke surga. Terlebih Jika kita membaca kitab shahih bukhari, hadist ini disimpan oleh Imam Al-Bukhari hadist ini disimpan dalam kitabulilmi dibawah bab al-ilmu qabla al-lqauli wal ‘amali (ilmu sebelum berucap dan beramal) ini menunjukan bahwasannya ilmu itu merupakan suatu hal yang sangat urgen dalam kehidupan kita, karna dengan ilmu ucapan manusia akan dihargai, dan dengan ilmu amal manusia akan dihormati.  Bahkan Allah Swt menjanjikan bagi akan mengangkat drajat orang yang berilmu. Firman Allah Swt :

(سورة المجادلة (58): آية 11) … يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجات…

Artinya : Allah akan meningikan beberapa drajat orang yang beriman dan orang yang diberi ilmu beberapa drajat. (Qs. Al-Mujadalah : 11)

Imam Anawawi menjelaskan yang dimaksud dengan ilmu dalam hadits diatas adalah ilmu syar’I yaitu ilmu yang berkaitan dengan masalah agama seperti ilmu tafsir, ilmu hadis dan ilmu-ilmu yang lainnya. Karna ilmu syar’I merupakan wasilah untuk mendekatkan diri kepada yang Maha mengetahui yaitu Allah Swt. Apalagi jika kita perhatikan hadist ini diawali kata من  (siapa saja) jadi sifat hadist ini tidak temporal, lokal, tapi difahami secara universal dalam artian siapa saja, orang mana saja, Ketika ia mencari ilmu maka Allah akan mudahkan jalan menuju kebahagiaan abadi. Oleh karna itu tidak heran jika sekarang munculnya Pendidikan agama baik bersifat formal, non formal, dan informal dari mulai tingkat anak-anak sampai dewasa ini cukup menunjukan bahwasannya manusia sendiri telah menyadari akan pentingnya ilmu syar’i.

Namun perlu kita ketahui bukan hanya ilmu syar’I, semua ilmu itu mulia, baik itu ilmu yang berhubungan dengan masalah duniawi terlebih yang berkaitan dengan masalah ukhrawi. Walaupun terkadang, yang penulis rasakan Ketika belajar dipesantren, tapi penulis rasa tidak semua pesantren bahkan mungkin ini hanya perasaan penulis, seakan-akan ada dikotomi ilmu Ketika ada orang mempelari urusan agama contohnya mempelajari fiqih maka biasanya akan menganggap tidak penting kepada pelajaran yang berkaitan dengan duniawi seperti matematika, dan yang lainnya. Penulis tidak tau dari mana asalnya seakan-akan menganggap ilmu yang bersifat duniawi dianggap sepele bahkan tanpa harus dipelajari, Akan tetapi memang idealnya semua cabang ilmu harus kita ketahui.

Disamping itu, menguasai semua cabang ilmu merupakan hal yang mustahil, akan tetapi jangan sampai timbul pemikiran yang tadi yaitu menganggap satu bidang ilmu tidak penting sehingga tidak ada keinginan untuk mempelajarinya. Contoh kecilnya seorang petani ia bisa menggunakan cangkulnya untuk bekerja akan tetapi belum tentu seorang petani bisa membuat cangkulnya,begitu juga sebaliknya. Ini cukup menunjukan bahwa ternyata manusia itu mustahil menguasai segala bidang ilmu. Makannya tidak heran Imam Abil Hasan Ali bin Muhamad bin Habib Al-Bashri Al-Mawardi dalam menyebutkan dalam kitabnya  adabu dunya wad din :

وَاعْلَمْ أَنَّ كُلَّ الْعُلُومِ ‌شَرِيفَةٌ، وَلِكُلِّ عِلْمٍ مِنْهَا فَضِيلَةٌ، وَالْإِحَاطَةُ بِجَمِيعِهَا مُحَالٌ

Dan ketahuilah bahwasannya seluruh ilmu itu mulia, dan setiap ilmu mempunyai kelebihan serta menguasai semua ilmu itu suatu hal yang mustahil [2]

Olehkarnanya jikalau kita mempelajari semua ilmu merupakan satu hal yang mustahil maka kita minimal harus mengetahui ilmu yang usul (pokok) yaitu ilmu yang berkaitan dengan masalah syar’I tanpa mengangap rendah cabang ilmu yang lain. Karna masalah yang berkaitan dengan syar’I merupakan pondasi yang akan menjauhkan manusia dari kehinaan. Karna tidak sedikit ada orang dari segi akademis dia sudah mapan dibidangnya Ketika tidak ada dasar ilmu syar’I banyak orang yang terperosok kepada kehinaan, contohnya seorang koruptor dari segi akademis jangan ditanyakan seberapa tinggi ia bersekolah, seberapa banyak ia menoreh penghargaan akan tetapi Ketika tidak didasari ilmu syar’I ia terjerumus kepada kehinaan dunia. Walaupun jika kita lihat dizaman sekarang ada juga orang yang dianggap sebagai ulama dan Ustaz akantetapi dalam kehidupannya sama sekali jauh dari gelar yang disandangnya, ia membohongi jutaan umatnya hanya untuk kepentingan pribadi. Menurut penulis dia memang mempunyai ilmu agama akan tetapi dia tidak jujur terhadap ilmu atau dia ilmu nya hanya sebatas talaran semata. Karna hakikat ilmu itu bukan sekedar hanya hafalan semata akan tetapi harus dibuktikan dengan amal perbuatan..

Maka sepatutnya untuk para pencari cahaya Ilahi jangan hanya sekedar mencari pengetahuan akan tetapi harus senantiasa dibarengi dengan pengamalan terhadap ilmu tersebut.

Namun dalam praktiknya mencari ilmu tidak semulus yang kita bayangkan selalu ada tantangan dan rintangan yang menghadang, tidak sedikit orang yang merasa bosan, malas dan susah mencari ilmu, bahkan tidak sedikit para ulama zaman dulu merasakan kelaparan, jauh dari kekayaan dan sebagainya kita ambil contoh dalam kitab syaikh Abdullah Abu Ghuddah berjudul ”kisah-kisah para Ulama dalam menuntut ilmu”  diantaranya diceritakan :

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya dzalil thabaqat Al-Hanabilah, 1/298 menyebut tentang biografi Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yaitu syaikh thariqat yang meninggal dunia pada tahun 561 H.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan : makanan pokokku adalah seledri berduri, sisa-sisa sayuran, daun-daunan murah yang ada dipinggir sungai dan pinggir pantai. Paceklik menyebabkan harga-harga membumbung tinggi di Bagdad sampai menyebabkan aku berhari-hari tidak makan, bahkan aku mencari makanan-makanan sisa yang sudah dibuang untuk aku makan.

Pada suatu hari, karna kelaparan yang teramat sangat hingga aku keluar rumah denagan harapan mendapatkan sisa-sisa dedaunan ataupun sisa-sisa sayuran untuk aku makan. Ketika aku pergi ke suatu tempat, ternyata disana sudah ada orang-orang yang memungut sisa-sisa makanan tersebut, sedangkan jika aku menemukan sisa-sisa makanan, ternyata orang-orang yang miskin berdesak-desakan untuk mencarinya hingga aku akhirnya mengalah untuk menapatkan pahala.

Aku lalu pulang dengan berjalan kaki ditengah negeri. Setiap aku mendapatkan sesuatu yang dibuang, ternyata suah didahului orang lain sehingga aku sampai Masjid Yasin dipasar  Ar-Rayyahin di Bagdad. Aku merasa sudah tidak mampu lalu aku berjalan hingga aku mencoba masuk kedalam masjid. Hampir-hampir kematian menjemputku.

Tiba-tiba, ada seorang pemuda non Arab yang masuk masjid membawa roti yang bersih dan makanan yang dipanggang. Dia lalu duduk dan makan. Setiap kali ia mengangangkat tangannya mulutku pun ikut terbuka karna rasa lapar yang teramat sangat. Hal ini menyebabkan aku tidak senang dengan diriku sendiri dan dalam hatiku berkata, “ Apa-apaan ini ?” dalam hatiku juga berkata “di sini tidak ada selain pertolongan Allah atau memang Allah menakdirkan kematian bagiku.”

Tiba-tiba, seorang menengok ke arahku lalu berkata, “dengan menyebut nama Allah, wahai saudaraku makanlah” aku lalu menolaknya. Dia bersumpah untuk memberikannya kepadaku tetapi segera aku menolak keinginanku. Dia lalu bersumpah untuk memberikannya kepadaku dan aku memakan makanan itu dengan tidak enak hati. Dia berkata kepadaku “ apa pekerjaanmu? Kamu dari mana? Siapa nama panggilanmu?” Aku berkata, “Aku pelajar fiqih dari Jailan” dia berkata “ aku juaga dari Jailan. Apakah kamu mengenal seorang pemuda Jailan yang bernama Abdul Qadir. Dia adalah cucu dari Abdullah Ash-Shauma’I seorang yang zuhud ?” aku menjawab “Akulah orangnya”

Pemuda itu kaget dan berubah mukanya¸dia berkata, “demi Allah, aku sampai ke Bagdad dan membawa sisa-sisa bekal untukku, kemudian aku bertanya tentang keberadaanmu tetapi tidak ada yang meunjukan keberadaanmu, bekalku habis aku tidak mempunyai uang kecuali uang titipan untukmu. Bangkai sudah halal bagiku. Aku lalu memakai uangmu untuk membeli roti, maka makanlah dengan senang hati.

Aku berkata kepadanya, “apa aitu titipan untukku?” dia menjawab, “Ibumu mengirimkan uang untukmu delapan dinar. Uang itu aku belikan makanan karna terpaksa. “aku minta maaf kepadamu”. Aku merasa senang dan jiwaku pun tentram. Aku lalu memberikan kepadanya makanan yang tersisa dan sedikit emas sebagai nafkah untuknya. Dan menerimanya lalu beranjak pergi.

Bisa dibayangkan dari kisah ini bahwa menuntut ilmu merupakan pekerjaan yang sangat mulia walaupun terkadang kelelahan dan kepayahan para ulama, jarang tidur dan upaya menghindari semua kenikmatan duniawi, kesabaran menghadapi penderitaan, dan kemiskinan bahkan kelapan seperti yang dialami oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Akan tetapi semua kelelahan itu mereka jalani dengan Lillah sehingga seberat apapun rintangan terasa mudah karna mereka hanya berorientasi untuk mendapatkan ridha Illahi. Begitu juga sebaliknya orang yang menghaapi rintangan tanpa Lillah maka walaupun rintangan itu muah akan terasa lelah karna orientasinya bukan mencari riha ilahi akan tetapi hanya pujian dan popularitas yang ia dapat.

Dengan demikian kita harus memanfaatkan waktu yang ada untuk selalu menambah ilmu, seperti halnya para ulama zaman dulu mereka bersusah payah mencari ilmu akan tetapi hasilnya mereka toreh dengan bukti kita sekarang masih bisa menikmati hasil jerih payah yang telah mereka terehan. Oleh karnanya kita harus semangat dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu seperti halnya salah seorang sahabat Rosulullah Saw yang bernama Abu Hurairah diriwayatkan dalam sebuah hadist :

عن أبي هريرة أنه قال: قيل: يا رسول الله! من أسعد الناس بشفاعتك يوم القيامة؟ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (لقد ظننت يا أبا هريرة أن لا يسألني عن هذا الحديث أحد أول منك لما رأيت من حرصك على الحديث، أسعد الناس بشفاعتي يوم القيامة من قال: لا إله إلا الله، خالصا من قلبه أو نفسه

Dari Abu Hurairah bahwasannya ia telah berkata : pernah ditanya : wahai Rasulullah, siapakah orang yang beruntung mendapatkan syafa’atmu dihari kiamat ? Rasulullah Saw. Menjawab wahai Abu Hurairah, aku telah menduga bahwa tidak akan ada orang yang mendahukuimu untuk menanyakan hal ini. Aku mengamati kesungguhanmu dalam mendapatkan hadits. Orang yang beruntung mendapatkan syafa’atku nanti ialah siapapun yang mengatakan la ilaha illallah ikhlas dari hatinya atau jiwanya (HR. Al-Bukhari )

Imam Al-Bukhari menyimpan hadist ini dalam bab ‌‌(باب الحرص على الحديث) bab tentang semangat atas hadist didalam kitabul ilmi. Yang menjadi kaitan dengan judul bab adalah kalimat(لما رأيت من حرصك على الحديث) Aku mengamati kesungguhanmu dalam mendapatkan hadits. ungkapan ini menunjukan diantara sunah belajar ialah menjalaninya dengan serius, penuh kesungguhan. Hal ini menghadirkan totalitas dalam belajar sekaligus melahirkan kualitas ilmu yang sempurna. Dalam hadist ini sangat jelas semangat abu Hurairah dalam mencari ilmu, lebih khususnya mengenai tentang hadits. Semuanya itu ditempuh dengan penuh kesungguhan demi melahirkan ilmu ysng bermanfaat bagi umat.

 

[1] Hadits ini shahih berdasarkan syarat Imam Al-Bukhari.

[2] Imam Abil Hasan Ali bin Muhamad bin Habib Al-Bashri Al-Mawardi, adabu dunya wad din, darul maktabah hayah,1986.

16 Komentar

Azka , Jumat 10 Jun 2022

masyallah, singkat, padat ,jelas …mudah mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat

Balas
Azka , Jumat 10 Jun 2022

singakat,padat,jelas, masyaallah.

Balas
Isma , Jumat 10 Jun 2022

Masyaa Allah, barakallahu fiik

Balas
syifana , Jumat 10 Jun 2022

memotivasi agar lebih giat lagi dalam belajar, karena dijelaskan di atas bahwa ilmu dapat memudahkan jalan kita menuju surga .

Balas
syifa , Jumat 10 Jun 2022

memotivasi agar lebih giat lagi dalam belajar, karena dijelaskan di atas bahwa ilmu dapat memudahkan jalan kita menuju surga .

Balas
ujangsaepudin , Jumat 10 Jun 2022

Masya allah…tulisan yang sangat bermanfaat sekaligus menginspirasi generasi muda dalam belajar.

Balas
Faturohman , Sabtu 11 Jun 2022

Lanjutkan

Balas
Faturohman , Sabtu 11 Jun 2022

Salam literasi

Balas
RIZAL RAHMAN , Sabtu 11 Jun 2022

gasskeun

Balas
Duta , Sabtu 11 Jun 2022

Sip lah

Balas
Wihdan , Sabtu 11 Jun 2022

Jangan kasih kendor brother.. Tingkatkan

Balas
AFTORI KALIGRAFI , Sabtu 11 Jun 2022

Subhanallah, alhamdulillah hari ini dapat pengetahuan dan ilmu baru.
Lanjutkan sahabat

Balas
Ridwan , Sabtu 11 Jun 2022

Bermanfaat sekali

Balas
Akmal , Sabtu 11 Jun 2022

(9min, 6dtk) nice. menyadarkan kembali untuk bersungguh dalam mencari ilmu…

Balas
Muh.kasim , Minggu 12 Jun 2022

Pengetahuan jeung elmu terdengar sama namun berbeda
Kos nu ngarti jeung nu surti

Balas
Anisa Aulia , Minggu 12 Jun 2022

Masya allah, terimakasih untuk penulis sudah mengingatkan bahwa mencari ilmu itu memanglah penting dan semangat terus buat kalian yang sedang mencari ilmu.

Balas

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 7 8 6
Total views : 10736
Salam Silaturahmi