Info Terkini
Selasa, 23 Jul 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
10 Juni 2022

Islam dan Nasihat

Jumat, 10 Juni 2022 Kategori : Khazanah dan Hikmah / Qolamunetizen

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏»الدِّينُ النَّصِيحَةُ« قُلْنَا لِمَنْ؟ قَالَ »لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ«. رواه مسلم

Dari Tamīm Ad-Dāriy raḍhiyallāhu ‘anhu meriwayatkan bahwasanya Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama (Islam) itu nasihat” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Nabi menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan semua kaum muslimin pada umumnya.” (HR. Muslim, 1:55)

Agama Islam adalah nasihat. Pernyataan singkat dalam hadis tersebut sangatlah penting untuk dipahami karena agama Islam ini dijelaskan sebagai nasihat, bahkan dalam riwayat lain sampai diulang sebanyak tiga kali yang menunjukan penekanan bahwa nasihat yang dimaksud dalam hadis ini adalah perkara yang penting. Maka sebagaimana dalam riwayat tersebut, para sahabat pun bertanya kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk siapa nasihat tersebut.

Syaikh Utsaimin mensyarah bahwa yang dimaksud dengan an-nashiihah dalam hadis tersebut artinya membersihkan dan memurnikan sesuatu. Maka berdasarkan penjelasan syarah tersebut dapat dipahami nasihat yang dimaksud adalah seorang yang beriman melakukan tindakan yang menunjukkan keimanan dan ketaatan dengan melaksanakan ibadah yang murni dilakukan karena Allah subhanahu wa ta’ala semata. Kemudian juga tindakan yang menunjukan keimanan dan ibadahnya kepada Kitabullah, Rasulullah, pemimpin muslimin dan semua muslim[1]. Artinya nasihat adalah (penopang) agama yang mana isi dari nasihat tersebut adalah tindakan, atau hak kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan para pemimpin muslim serta muslim yang sesuai dengan ajaran Islam.

Melaksanakan ajaran Islam seperti mendirikan shalat, menunaikan zalat, dan sebagainya adalah perkara yang penting karena salat adalah ibadah untuk memenuhi Hak Allah. Firman Allah subhanahu wa ta’ala juga menyebutkan bahwa tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada sang penciptanya[2]. Selanjutnya, menunaikan zakat juga menjadi sama pentingnya dengan salat. Sebagaimana yang kita ketahui dalam rukun Islam, zakat disebutkan setelah salat dan firman Allah subhanahu wa ta’ala juga sering menyebutkan setelah mendirikan salat adalah menunaikan zakat[3]. Disamping kedua hal tersebut, ternyata nasihat juga merupakan perkara yang penting karena dalam sebuah riwayat, sahabat Jarir raḍhiyallāhu ‘anhu pernah berbaiat kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk menasihati setiap Muslim.

عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال: بَايَعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ. متفق عليه

Jarīr bin abdullāh raḍiyallāhu ‘anhu mengatakan, “Aku berbaiat kepada Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menasihati setiap Muslim”. (Muttafaq ‘alaih)[4]

Baiat tersebut maksudnya adalah janji untuk memenuhi hak-hak yang ada dalam Islam. Salat adalah hak Allah dan menunaikan zakat adalah hak manusia, kedua perkara ini merupakan ibadah dan bahkan rukun Islam. Sedangkan saling menasihati adalah hak bersama, maksudnya adalah hak sesama muslim[5]. Hal ini jelas menunjukkan bahwa saling menasihati adalah ibadah yang sama pentingnya dengan salat dan zakat untuk memenuhi hak yang ada di dalam agama Islam, bahkan sahabat Jarir raḍiyallāhu ‘anhu berbaiat kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk saling menasihati setiap muslim.

Firman Allah -swt- dalam surat al-‘Ashr juga menjelaskan tentang saling menasihati, yaitu isi dari nasihat. Surat tersebut mengingatkan untuk menjaga keimanan dan menjaga hubungan sesama manusia dengan saling menasihati kepada hak dan sabar[6]. Sedangkan cara untuk memberi nasihat kepada sesama muslim yang benar adalah dengan mencintai mereka sebagaimana kita mencintai diri sendiri. Kita berbahagia dengan apa yang membuat mereka bahagia, dan sedih dengan apa yang membuat mereka sedih, serta memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka yaitu kita ingin diperlakukan baik. Sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم  قال: «لا يؤمنُ أحدُكم حتى يحبَّ لأخيه ما يحبُّ لنفسِه» .متفق عليه

Dari Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu, dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘alaih)[7]

Secara langsung hadis ini menunjukkan bahwa keimanan seseorang tidak akan sempurna jika tidak memperlakukan saudaranya sesama muslim sebagaimana dirinya sendiri. Hadis ini juga menunjukan bahwa seorang mukmin senantiasa membantu saudaranya dalam urusan yang mengandung manfaat, baik dalam agama ataupun dunia dengan saling memberikan nasihat dan bimbingan kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang kepada yang munkar sebagaimana yang dia inginkan untuk dirinya sendiri. Dia juga akan menunjukkan kepada kebaikan-kebaikan yang disukainya. Sedangkan yang tidak disukainya dia akan menjauhkan itu dari saudaranya. Sikap menunjukkan kepada kebaikan dan menjauhkan kepada keburukan tersebut diumpamakan sebagai cermin, sebagaimana sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.

‏عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: « الْمُؤْمِنُ مَرْآةُ أَخِيهِ، وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ، يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ، وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ ».  صحيح الأدب المفرد

Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi seorang mukmin lainnya, Membantu memperbaikinya dari kesalahannya dan memperhatikannya dari belakang.” (Shahih Adabul Mufrad)[8]

Perumpamaan ini mengisyaratkan sikap seorang muslim dengan menuntun saudaranya untuk melakukan akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang buruk. Sebagaimana cermin bening yang dapat memperlihatkan dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan kewajiban saling menasihati, maka jika seorang muslim menemukan sebuah kesalahan atau aib pada saudaranya, ia akan mengingatkannya dan menuntunnya agar memperbaikinya. Namun, memperbaiki aib hanya dilakukan antara dia dan saudaranya saja, karena jika itu dilakukan di depan umum tidak lain hanya akan mempermalukannya. Sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa setiap muslim dituntut untuk menutupi aib sesama muslim yang berarti juga membantu untuk memperbaikinya[9].

Nasihat dalam Islam merupakan pembahasan yang luas, sebagaimana banyaknya hadis yang menerangkan tentang sikap sesama muslim serta kewajiban dan hak diantara mereka yang juga diumpamakan sebagai bangunan karena sikap mereka saling menguatkan keimanan satu sama lain. Tetapi kita dapat memahami bahwa nasihat dari agama adalah penopang penting keimanan, saling menasihati adalah hak bersama untuk saling menguatkan dan menginatkan kepada keimanan dan agama Islam adalah nasihat. Wallahu a’lam

[1] Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarhul Arba’iin an-Nawawiyyah, Terj. Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri. (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2014, 183-195)

[2] Quran surat Az-Zariyat ayat 56

[3] Quran surat 2:43, 2:83, 2:110, 2:177, 2:277, 4:77, dsb

[4] HR. Muslim, 1:56. HR. Bukhari, 1:524

[5] HadeethEnc (https://hadeethenc.com/ar/browse/hadith/3512)

[6] Quran surat Al-‘Ashr

[7] HR. Muslim, 1:45. HR. Bukhari, 1:13

[8] Shahih Adabul Mufrad: 239. Hadis tersebut Hasan

[9] HadeethEnc (https://hadeethenc.com/ar/browse/hadith/5494)

14 Komentar

Faturohman , Sabtu 11 Jun 2022

Lanjutkan

Balas
RIZAL RAHMAN , Sabtu 11 Jun 2022

mantaff nih

Balas
Rahman , Sabtu 11 Jun 2022

Siip pokona mh

Balas
Rahman , Sabtu 11 Jun 2022

Siip

Balas
Rahman , Sabtu 11 Jun 2022

Mantul

Balas
Wihdan , Sabtu 11 Jun 2022

Semangat!

Balas
Wihdan , Sabtu 11 Jun 2022

Menginspirasi

Balas
Wihdan , Sabtu 11 Jun 2022

Menginspirasi!

Balas
Wihdan , Sabtu 11 Jun 2022

Wajib ini mah

Balas
Wihdan , Sabtu 11 Jun 2022

Wajib ini mah.

Balas
Duta , Sabtu 11 Jun 2022

Harus di bukukan ini mah

Balas
Ridwan , Sabtu 11 Jun 2022

Masya allah akhi

Balas
Ridwan , Sabtu 11 Jun 2022

Menginspirasi sekali

Balas
Fauzi , Minggu 12 Jun 2022

Masya Allah

Balas

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 7 8 5
Total views : 10735
Salam Silaturahmi