Info Terkini
Kamis, 13 Jun 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
18 Juli 2022

Memoar Perjalananku di Thailand (13)

Senin, 18 Juli 2022 Kategori : Founder Way / Naufal A.

Mentari yang tenggelam di ufuk barat pada hari Ahad, 17 Juli, menjadi pertanda libur panjang di Thailand sudah berakhir. Sementara itu, saya baru saja menghabiskan waktu liburan selama tiga hari dua malam di Satun, sebuah provinsi di Thailand yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Sebagaiamana yang telah disampaikan dalam catatan sebelumnya, saya bersama Babo dan Umi tiba di Provinsi Satun pada hari Jumat petang. Setelah menunaikan ibadah Magrib sebentar di rumah mertua Umi, saya langsung diantar ke sebuah gerai busana Muslim yang terletak di Pasar Langu. Jaraknya kira-kira 3-5 km dari rumah mertua Umi.

Di situlah tempat saya sendirian menghabiskan malam-malam di Satun. Setelah Babo dan Umi memberikan arahan juga membersihkan ruangan yang hendak saya gunakan untuk istirahat, mereka kembali lagi ke rumah sebelumnya.

Gerai busana Muslim yang terletak di pasar Langu tersebut rupanya milik Umi. Bangunan gerai ini terdiri atas dua bagian; lantai bawah dan lantai atas. Di lantai bawah terdapat koleksi busana Muslim-Muslimah yang jumlahnya sangat banyak. Sedangkan, lantai atas menjadi tempat yang tampaknya biasa dipakai beristirahat untuk Umi maupun pegawainya. Di bagian atas ini terdapat ruang kamar dan sepetak ruang makan yang kecil serta ruang semi-terbuka yang difungsikan sebagai kamar mandi.

Sejujurnya saya heran sekali tatkaka melihat ruang satu ini. Tempat yang kata Babo ditujukan sebagai kamar mandi ini ternyata mempunyai dua jendela yang tidak ditutup tirai atau gordyn. Perasaan waswas pun tidak dapat saya tutup-tutupi selama mandi di sana. Untung saja selama menginap di tempat itu, saya tidak mengalami kejadian yang tak mengenakkan.

Saya secara efektif mulai menikmati masa liburan di Satun pada Sabtu, 16 Juli kemarin. Seingat saya jam arloji kala itu menunjukkan pukul 14.35. Sembari mengendarai mobil Pajero Sport, Babo mengajak saya, Umi, dan seorang kerbatnya ke sebuah tempat yang cukup jauh dari Pasar Langu. Kira-kira butuh waktu sekitar 45 menit untuk bisa sampai ke tujuan kami ini.

Sesampainya di tujuan, rupanya saya diajak ke rumah kenalan Babo dan Umi untuk beli buah-buahan. Di tempat ini, Babo dan Umi membeli buah dukuh dan rambutan dalam jumlah yang sangat banyak.

Dari rumah tersebut, kami lekas melanjutkan perjalanan menuju pusat jajanan masyarakat yang jaraknya sekitar 4-5 km. Di tempat ini Babo dan Umi membeli sekitar empat buah durian. Setelah itu, kami diberi kesempatan untuk bejalan-jalan di komplek jajanan tersebut sekaligus makan laksa bersama.

Perjalanan di area tersebut berakhir pada sekitar pukul 17.00. Selepas itu, kami semua beranjak ke mall Makro. Seperti dua pekan yang lalu, rupanya Babo kembali membeli snack dan minuman yang banyak untuk persediaan jajanan di kantin sekolah.

Perjalanan yang bermula sejak siang itu berakhir pada sekitar pukul 20.00 malam. Saya kembali ke gerai di Pasar Langu untuk beristirahat. Namun, sebelum Babo dan Umi pergi, mereka menawarkan kepada saya untuk mencicipi buah durian.

Saya yang seumur hidup belum pernah merasakan durian, pada hari itu agak sedikit terpaksa diharuskan untuk mencobanya. Tanpa banyak bicara, saya langsung turun ke lantai bawah dan merasakan sedikit buah berduri itu. Setelah saya rasakan sendiri ternyata rasanya manis dan cocok di lidah saya. Inilah rekor yang saya pecahkan selama di Thailand. Akhirnya, saya merasakan juga buah yang sebelumnya saya  rasa baunya kurang sedap ini.

Semenjak mencoba buah durian itu, saya jadi semakin penasaran untuk menikmatinya. Saya menyantap lagi buah penuh itu setelah Babo pergi kembali ke rumah mertuanya.

Sebenarnya, saya masih ingin menyambungkan pembahasan dari catatan sebelumnya. Tetapi, atas pertimbangan beberapa hal, akan saya memutuskan untuk mengedepankan topik tentang hal ini.

Mudah-mudahan, di lain waktu masih ada kesempatan untuk melanjutkan pembahasan dari catatan sebelumnya. Semoga uraian ini bermanfaat. Aamiin.

Bumi Allah, Krabi, Ahad 17 Juli 2022.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 5 9 5
Total views : 10418
Salam Silaturahmi