Info Terkini
Selasa, 23 Jul 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
3 Mei 2022

Lika-Liku Natsir Merintis Pendis

Selasa, 3 Mei 2022 Kategori : Founder Way / Naufal A.

Sosok Mohammad Natsir (1908-1993) ibarat sebuah bintang yang turut menghiasi cakrawala perjuangan Indonesia. Putra kebanggaan Minangkabau ini tumbuh menjadi tokoh besar Republik Indonesia yang hidup sangat sederhana. Kesederhanaannya tampak manakala beberapa orang menyaksikan Natsir mengenakan jas yang bertambal. Bahkan, diketahui, ia bersama keluarganya kerap kali berpindah-pindah tempat tinggal lantaran tidak punya cukup uang.

Potret M. Natsir (Sumber gambar: Twitter/@mazzini_gsp)

Natsir yang hidup sederhana tidak pernah sedikit pun berkecil hati. Ia senantiasa bersikap rendah hati dan menjalankan tugas sebaik mungkin. Pada masa awal kemerdekaan, Natsir dipercaya menjadi Menteri Penerangan selama tiga kali berturut-turut. Di samping itu, Natsir juga memiliki kontribusi yang signifikan bagi perjuangan Indonesia. Natsir melalui Mosi Integral membuat RIS, negara federasi ciptaan Belanda, lekas dibubarkan. Sebagai konsekuensinya, ia dipercaya Presiden Sukarno untuk menjadi Perdana Menteri.

Di balik kiprahnya sebagai tokoh yang tersohor dalam dunia politik Indonesia. Sesungguhnya sebelum Natsir terjun dalam dunia politik, ia adalah orang yang mencurahkan perhatiannya pada dunia pendidikan. Natsir adalah sosok yang merintis sebuah lembaga pendidikan yang mengintegrasikan kurikulum barat dengan Islam pada 1930-an.

 

Tertarik dengan Dunia Pendidikan

Ketertarikan Natsir untuk terjun menggeluti dunia pendidikan diakuinya timbul secara tiba-tiba. Rencananya, setelah lulus studi AMS di Bandung ia bercita-cita mencapai gelar Meester in de Rechten (sarjana hukum). Namun, ketika Natsir benar-benar lulus, ia justru lebih tertarik dengan dunia pendidikan.

Ketertarikan Natsir dengan dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari beberapa kejadian yang dialami sebelumnya. Terutama ketika masih di kampung halaman. Natsir merupakan salah satu tokoh bangsa yang menjadi korban kebijakan diskriminatif Pemerintah Hindia Belanda.

Natsir sempat merasakan pengalaman pahit sebelum masuk sekolah. Ia pernah ditolak masuk sekolah pemerintah lantaran bukan berasal dari keluarga yang kaya. Ayahnya, Idris Sutan Saripado, hanyalah seorang juru tulis, sebuah profesi kelas rendah dalam jenjang kepegawaian di Hindia Belanda.

Tak hanya itu, Natsir juga memiliki pandangan lain terhadap kondisi pendidikan di Hindia Belanda. Ia merasa pendidikan ala Belanda ini sangat miskin asupan rohani. Sebagai anak Minang yang dididik untuk taat beragama, Natsir merasakan adanya kesenjangan pemahaman agama antara dirinya dengan kawan-kawan seusianya. Ia kerap kali mendapati kawan-kawan seagamanya yang melecehkan Islam.

 

Mendirikan Pendis

Atas beberapa pengalaman itulah Natsir bercita-cita untuk menjadi pelayan umat dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam yang berlainan dari pada umumnya. Natsir berpandangan bahwa pendidikan Islam perlu mengakomodasi keilmuan-keilmuan yang asalnya dari Barat.

Natsir berpendirian bahwa Islam sebagai agama tidak pandang asal Timur dan Barat. Menurutnya, sebagai Muslim, wabil khusus pendidik Muslim tidak perlu membenturkan antara pendidikan Timur dengan Barat sebab pemilik Timur dan Barat ialah Allah Swt.

Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan (2019) menerangkan bahwa gagasannya untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam semacam itu Natsir sampaikan kepada guru utama Persatuan Islam (Persis), Tuan Ahmad Hassan (1887-1957) dan sahabatnya, Fachroeddin Al-Khahiri (1904-1979).

Setelah memperoleh dukungan dari orang-orang terdekatnya, Natsir mulai membuka lembaga pendidikan yang ia cita-citakan dengan nama ‘Pendidikan Islam’ atau disingkat menjadi ‘Pendis’ di sebuah ruangan kecil yang terletak di simpang Jalan Pangeran Soemedang. Ruangan tersebut disewa secara bergiliran bersama pemilik kursus bahasa Inggris, A.A. Banama. Ketika Pendis resmi dibuka, Natsir hanya mendapatkan murid sebanyak lima orang.

“Di ruang itu ada satu meja panjang, mirip meja makan. Di situlah Natsir bersama lima peserta kursus duduk sebagai guru dan murid. Natsir mengajar dari pukul 15.00 sampai 17.00 selam dua jam penuh”, tulis Lukman.

Seiring waktu, jumlah murid Pendis semakin bertambah karena berita tentang keberadaan sekolah ini tersampaikan dari mulut ke mulut. Selain itu, Pendis yang berstatus sebagai sekolah partikelir tidak memungut biaya besar seperti sekolah pemerintah. Oleh karena itu, banyak anak-anak bumiputera yang ingin bersekolah berbondong-bondong masuk ke Pendis.

 

Rentetan Ujian Melanda

Dengan bertambahnya jumlah murid, Natsir merasa perlu untuk menekuni studi pedagogik. Ia mengikuti kelas guru selama setahun pada 1931. Selepas mengikuti jenjang tersebut, Natsir mulai merumuskan ide-ide baru untuk Pendis. Ia memutuskan membuka jenjang Pendis secara lebih luas lagi yang meliputi TK, HIS, MULO, sampai Kweekschool (Sekolah Guru).

Bertambahnya jumlah murid, di satu sisi menjadi pertanda suksesnya sistem pengajaran dan manajerial Pendis. Akan tetapi, di sisi yang lain, rupanya hal itu juga menambah beban Natsir dalam membina lembaga pendidikan tersebut. Ruang kelas yang kecil dan jumlah sarana-prasarana kelas yang tersedia sudah tampak tidak lagi mampu menampung jumlah murid Pendis yang banyak.

Beruntung kala itu Natsir dibantu oleh Haji Mohammad Junus, seorang tokoh Persis Bandung pelanggan setia majalah Pembela Islam. Pria yang berusia lebih tua dari Natsir ini merupakan pendukung utama usaha Natsir selama mengembangkan Pendis.

Lukman Hakiem mengisahkan bahwa Haji Junus berkali-kali membantu memenuhi keperluan Pendis. Dimulai dari meminjamkan uang untuk pembelian meja dan kursi serta penyewaan gedung Pendis, semuanya dibantu oleh haji dermawan itu. Oleh karenanya, setelah Haji Junus wafat, Natsir amat kehilangan sosok pendukung utama usahanya itu.

Semula, Pendis berkedudukan di sebuah ruangan di Jalan Pangeran Soemedang. Namun, karena tempat ini dinilai terlalu kecil maka Haji Junus bantu agar pindah ke tempat yang agak besar di Jalan Lengkong Besar No. 16. Selepas itu, karena dirasa kecil juga, maka dipindahkan ke Jalan Lengkong Besar No. 74 lalu pindah lagi ke sebuah gedung yang lebih layak di Jalan Pangeran Soemedang.

 

Belahan Jiwa Berjiwa Pejuang

Ibarat falsafah mati satu tumbuh seribu, setelah pendukung utama Pendis Natsir itu wafat, timbul pendukungnya yang lain. Kala itu, Natsir dibantu oleh istrinya bernama Puti Noernahar. Ia juga adalah staf pengajar Pendis. Lukman Hakiem mengisahkan, istri Natsir ini merupakan seorang aktivis Jong Islamieten Bond Dames Afdeling (JIBDA – JIB kalangan putri). Natsir menikah dengannya setelah bergabung dengan Pendis.

Diceritakan bahwa Natsir sempat minder ketika akan menerima Noernahar menjadi staf pengajar Pendis. Sebab, perempuan yang kelak jadi istrinya itu sebelumnya adalah guru sekolah Arjuna binaan organisasi Taman Siswa yang digaji cukup besar.

“Di sekolah itu Nurnahar memperoleh penghasilan sekitar 70 Gulden/bulan”, tulis Lukman.

Natsir khawatir jika Noernahar tidak merasa puas dengan gaji Pendis yang jauh lebih kecil ketimbang gaji sekolah Arjuna. Meski diberitahu seperti itu, pada akhirnya Noernahar menyanggupinya tanpa banyak alasan. Ia ditempatkan menjadi guru TK Pendis.

Noernahar, istri Natsir ini adalah sosok yang amat berjasa di balik eksistensi Pendis. Lukman Hakiem menuliskan bahwa Noernahar kerapkali melepas gelang emas yang menjadi mahar pernikahan Natsir ke pegadaian jika kondisi keuangan Pendis sedang krisis. Natsir amat beruntung karena dikaruniai Noernahar, belahan jiwa yang berjiwa pejuang.

 

Mencari Donatur untuk Pendis

Pendis sebagai lembaga pendidikan partikelir tidak sepeser pun mendapatkan subsidi dari pemerintah. Oleh sebab itu, Pendis kadangkala mengalami kesulitan untuk menggaji staf pengajar yang jumlahnya cukup banyak.

Lukman Hakiem mengisahkan sempat suatu kali, setelah Natsir menikah dengan Noernahar pada 30 Oktober 1934. Pendis tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membiayai guru-guru yang akan menghadapi bulan Ramadhan dan Lebaran.

Natsir bersama dengan Noernahar sebagai pasangan yang baru menikah memutuskan untuk tidak menyewa rumah. Hal ini mereka lakukan demi meminimalisasi pengeluaran anggaran. Pasangan baru ini memilih tinggal di sebuah kamar yang berada di Gedung Pendis.

Untuk menanggulangi keadaan yang cukup sulit saat itu, Natsir mencoba mengunjungi beberapa hartawan yang berpotensi menjadi donatur di Cirebon.

“Dengan modal 4,50 Gulden, Natsir berangkat ke Cirebon, mengunjungi beberapa pengusaha di sana, antara lain Abdullah bin Affif.”, ungkap Lukman.

Abdullah bin Affif dikenal sebagai orang kaya   juga berperangai baik sekali. Ketika Natsir mengunjunginya, Abdullah bin Affif suka menyambutnya dengan ramah sekaligus mengajaknya berdiskusi.

Tak hanya ke Cirebon, Natsir juga mengunjungi daerah-daerah lain untuk menawarkan donasi kepada para hartawan. Beberapa daerah yang dikunjunginya yaitu Pekalongan, Kudus, dan Surabaya.

“Mereka yang dikunjungi Natsir itu akhirnya menjadi donatur tetap Pendidikan Islam. Mereka mengirim zakat, infak, dan sedekahnya melalui pos wesel.”, tulis Lukman.

Melalui ikhtiar seperti itu Natsir mampu mengatasi persoalan yang menimpa Pendis setiap bulan Ramadhan juga menjelang Lebaran. Menurutnya, cara seperti itu bukanlah tindakan yang tidak terhomat. Demikianlah usaha Natsir untuk mengajak Kaum Muslimin supaya berlomba-lomba membersihkan hartanya.

 

Pendis Pernah Hampir Diusir

Wafatnya Haji Junus berdampak secara signifikan terhadap aktivitas Pendis. Semula, ia adalah kuasa sewa gedung Pendis di Jalan Lengkong Besar baik No.16 maupun No. 74. Akan tetapi, setelah Haji Junus wafat, kuasa sewa gedung Pendis beralih kepada seseorang yang punya sikap berlainan dengan Haji Junus.

“Berbeda dengan Haji Junus, kuasa pemungut sewa yang baru ini memungut sewa dengan cara keras, tidak ada kompromi, tidak boleh mencicil.”, ungkap Lukman.

Pendis sempat hendak diusir oleh pemungut sewa gedung ini karena sudah berkali-kali menunggak pembayaran sewa. Peristiwa ini terjadi ketika murid Pendis sudah mencapai 200 orang dan istrinya sedang hamil.

Saat itu, Natsir khawatir jika kabar ini sampai pada istrinya. Ia pun mencoba membuat hati kuasa sewa gedung ini iba. Melalui petugas yang sudah siap mengeksekusi perintah atasan, Natsir berkata supaya pengusiran sebaiknya disaksikan oleh murid-murid Pendis.

Natsir berkata seperti itu karena menurutnya Pendis bukan miliknya sendiri namun milik masyarakat, juga murid-murid Pendis yang ingin menggapai cita-cita. Setelah mendengar perkataan itu, petugas yang awalnya hendak menggusur sarana prasarana Pendis, saat itu juga malah mengurungkan niatnya.

Lukman Hakiem mengisahkan pasca kejadian yang tidak mengenakkan hati itu, sang petugas tidak menampakkan batang hidungnya lagi ke gedung Pendis. Bahkan, diceritakan, Natsir bertemu lagi dengan kuasa sewa gedung berperangai keras ini beberapa tahun berikutnya, setelah Natsir menjadi tokoh nasional.

Saat itu, keadaan sang pemilik gedung cukup memprihatinkan. Ia hendak pulang dari Jakarta ke Bandung namun tidak punya ongkos. Natsir yang mendengarkan keluhannya lantas memberinya sepeser uang untuk membeli karcis kereta api.

Pendis yang dirintis Natsir ini pada akhirnya tetap berdiri tegak walau diterjang badai ujian berkali-kali. Pendis benar-benar gulung tikar sampai tentara Pendudukan Jepang tiba menguasai Hindia Belanda dan membubarkan semua lembaga pendidikan partikelir.

 

Sumedang, 2 Mei 2022
Selamat Hari Pendidikan Nasional

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 7 8 6
Total views : 10736
Salam Silaturahmi