Info Terkini
Selasa, 23 Jul 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
10 Juni 2022

Kang Emil, A Eril dan Kematian Mendadak Orang-Orang Saleh

Jumat, 10 Juni 2022 Kategori : Agus S. Saefullah / Founder Way

Setelah 14 hari masa pencarian – tepatnya rabu tanggal 8 Juni 2022 Emmeril Kahn Mumtaz (A Eril) putra sulung Ridwan Kamil (Kang Emil) akhirnya ditemukan oleh Polisi Swiss di Bendungan Engehalde atas petunjuk Geraldine Beldi seorang guru yang kebetulan sedang membantu mencari bersama masyarakat Swiss lainnya.

Kang Emil pun segera terbang ke Swiss setelah memastikan bahwa yang ditemukan benar-benar jasad A Eril karena kecocokan DNA. Kali ini perjalanan Kang Emil menjemput jasad Eril tanpa didampingi Ibu Atalia dan anggota keluarga yang lain. Juru Bicara Pemprov Jabar Wahyu Wijaya menuturkan bahwa Kang Emil berangkat ditemani oleh Aspri.

Tentu bukan hal yang mudah untuk Kang Emil dan keluarga menerima takdir ini termasuk penulis dan warga Jawa Barat pada umumnya. Namun setidaknya kita bisa bernafas lega – kendati sudah dipastikan bahwa A Eril sudah meninggal, jasad  A Eril bisa ditemukan dan dibawa oleh pihak keluarga untuk diurus sesuai dengan syariat.

Kang Emil mengungkapkan rasa bersyukurnya ketika berada di rumah sakit Bern karena mendapati jasad anaknya dalam keadaan utuh.  Minimnya fauna dan temperatur air di sungai Aare yang cukup dingin adalah alasan ilmiah mengapa jasad A Eril masih utuh.

“Alhamdulillah Di Rumah Sakit Bern, Sesaat setelah memandikan jenazah Eril. Penjelasan ilmiah kenapa jasadnya utuh: Sungai Aare yang sedingin kulkas dan minim fauna, membuat jasadnya terjaga setengah membeku sehingga tetap utuh lengkap walau berada di dasar sungai selama 14 hari.” Ungkapnya dalam Twitter @ridwankamil.

Lalu beliau melanjutkan “ALHAMDULILLAH YA ALLAH,.. Akhirnya Engkau memberikan kesempatan saya untuk kembali memeluk, membelai dan memandikan anak saya sesuai syariat Islam, juga mengadzankan dengan sempurna di telinganya persis seperti saat Eril lahir.”

Kemudian pada twitt selanjutnya “dan MASYA ALLAH, Walau sudah lewat 14 hari, jasadnya masih utuh lengkap tidak kurang satu apapun, wajah rapih menengok ke kanan dan saya bersaksi, jasad Eril wangi seperti wangi dan eucalyptus. Sungguh mukjizat kecil yang sangat kami syukuri.”

“Maha Besar Allah, atas ijinMu, selama 14 hari sungai are benar-benar melindungi dan mensucikan jasadnya dari marabahaya. Hai Eril, saatnya kamu pulang ke tanah air, untuk menghaturkan terima kasih kepada jutaan yang mendoakanmu.” Tutupnya.

Dalam musibah ini terambilah banyak hikmah agar menjadi pelajaran bagi kita semua yang masih diberi kesempatan bernafas oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Pertama, kita semua belajar dari ketegaran Kang Emil.

Entah bagimana tangis kang Emil di hadapan Rabb saat bersimpuh dalam sajadah di setiap salat-salatnya. Tetapi yang kita tahu Kang Emil selalu nampak tegar di hadapan orang-orang. Baik yang melihat langsung atau kita yang hanya melalui media.

Keseharian Kang Emil cukup periang adalah pelajaran berharga menjadi sosok sederhana pada pemimpin yang sangat dipentingkan warga Jawa Barat. Beliau cukup dengan masyarakat baik ketika berkomunikasi langsung ataupun di media sosial.

Di situlah penulis belajar dari Kang Emil kendati urusan banyak, tanggung jawab besar dan kritikan tak henti-henti beliau tetap bisa bersikap tenang.

Maka pada saat beliau diberi musibah sekalipun ketenangan itu nampak tak berubah. Kondisi hatinya yang sudah pasti sangat terpukul, namun senyumnya tetap tersimpul. Maa syaa Allah.

Kedua, kita semua belajar dari kematian mendadak A Eril.

Mengenai kematian orang-orang yang mendadak bagi orang-orang saleh adalah peristirahatan. Itulah keyakinan penulis terhadap A Eril.

Kematian mendadak adalah istirahat bagi mukmin dan penyesalan bagi orang kafir” Demikian Ahmad dan Ibnu Syaibah meriwayatkan sabda Nabi yang diterima dari Aisyah radhiallahu anha.

Mengenai hadits ini Syaikh bin Baz ulama Saudi  (wafat 1999) menjelaskan bahwa, “terkadang seorang mukmin tertimpa dengan kematian mendadak seketika. Ini adalah bentuk istirahat dan kenikmatan dari Allah. Akan tetapi tentu saja ia sudah menyiapkan (amal shalih), istiqamah dan bersiap-siap menghadapi kematian dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan, kemudian ia meninggal dalam keadaan baik dan melakukan amal shalih, maka ia istirahat dari beban dunia, kelelahan dan penderitaan sakratul maut.”

Ustadz Adi Hidayat – Mubaligh yang cukup dengan keluarga Kang Emil bersaksi bahwa, “Dia (A Eril) baik. Sejak usia 11 tahun, dia sudah merenungkan tentang air dan Al Quran surah Hud ayat ketujuh, Allah menguasai segala yang ada di perairan.”

Maka kita semua sebagai orang-orang yang menyaksikan kepergian A Eril patut mengambiil suatu pelajaran agar terus mengingat kematian serta menyiapkan sebaik-baik bekal untuk menghadapinya.

Kematian adalah haadzim (pemutus) dari kelesatan dunia. Dalam riwayat An-Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad Rasulullah mengungingatkan “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”.

Pada kesemapatan lainnya Ibnu ‘Umar pernah berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” Demikian Ibnu Majah meriwayatkan.

Kematian akan memanggil tanpa konfirmasi. Kematian akan datang tanpa diundang. Kematian akan tiba tanpa aba-aba. Karena itu sebaik-baik hamba adalah yang menyiapkan dirinya di setiap masa.

Akhirnya penulis ucapkan terima kasih untuk Kang Emil yang telah memberi teladan, selamat jalan dan tunggu kami di Surga untuk A Eril yang telah dahulu beristirhat, dan mari berlomba-lomba dalam kebaikan bagi kita semua yang sudah pasti akan menyusul menghadap ke haribaan-Nya.

Sumedang, 11/06/2022

3 Komentar

Nurul Komariyah , Jumat 10 Jun 2022

Merinding bacanya…

Balas
Enjang Herawan , Sabtu 11 Jun 2022

Menginspirasi sekali lanjutkan kang agus

Balas
Tata rukanta , Sabtu 11 Jun 2022
Balas

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 7 8 5
Total views : 10735
Salam Silaturahmi