Info Terkini
Selasa, 23 Jul 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
31 Oktober 2022

Menjaga Api Semangat Jong Islamieten Bond (JIB)

Senin, 31 Oktober 2022 Kategori : Founder Way / Naufal A.

Tanggal 28 Oktober 2022 diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda ke-94 tahun. Menurut Surat Edaran (SE) Kemenpora tentang Panduan Peringatan Sumpah Pemuda ke-94 Tahun 2022, tema yang diusung Hari Sumpah Pemuda pada tahun ini ialah “Bersatu Bangun Bangsa”.

Bagi hemat penulis, tema Sumpah Pemuda yang dipilih tahun ini cukup merepresentasikan nilai perjuangan yang telah ditorehkan oleh para pemuda Hindia Belanda pada 94 tahun yang lalu. Para pemuda sebagai kelompok sosial yang berada di barisan paling depan, sangat merasakan tekanan kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Untuk itu, pemuda-pemuda yang telah membentuk organisasi-organisasi di berbagai daerah, berkumpul, menyatakan sikap untuk mengokohkan identitas mereka sebagai bangsa yang disatukan oleh kesamaan nasib dan letak geografis dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928.

Peserta Kongres Pemuda II kala itu terdiri atas beberapa perhimpunan pemuda dari berbagai etnis maupun daerah. Hal demikian dapat diperhatikan bahwa organisasi-organisasi pemuda yang datang ke dalam kongres tersebut, kebanyakan menyandang identitas etnis atau asal daerah mereka masing-masing, misalnya seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, dan Jong Ambon.

Dari sejumlah organisasi pemuda yang turut hadir dalam Kongres Pemuda II, terdapat sebuah organisasi pemuda yang sama sekali tidak menyantumkan identitas etnis maupun daerah anggotanya. Organisasi yang dimaksud, tidak mengikat anggota-anggotanya berdasarkan suku maupun asal daerahnya seperti Jong Java atau pun Jong Batak. Organisasi pemuda tersebut adalah Jong Islamieten Bond, atau populer dengan akronim JIB.

Berakar dari Perpecahan di Kongres Jong Java

Kemunculan Jong Islamieten Bond tidak dapat dipisahkan dari dinamika yang terjadi di kalangan anggota Jong Java. Dalam kongres Jong Java ke-7 di Yogyakarta pada 1924, internal Jong Java dilanda perpecahan.

Pangkal permasalahan dari perpecahan tersebut disebabkan karena perbedaan pendapat di antara peserta kongres. Di satu pihak, terdapat peserta kongres yang mengusulkan agar agama Islam ikut diajarkan kepada anggota-anggota Jong Java, sementara di pihak yang lain, terdapat peserta kongres yang merasa keberatan dengan usulan tersebut.

Usulan supaya pelajaran agama Islam dapat diajarkan di lingkungan Jong Java sesungguhnya bukanlah usulan yang nir-makna. Sebagian anggota Jong Java yang beragama Islam merasa bahwa sebagai calon-calon pemimpin masa depan, mereka sudah sepatutnya mengenal dan memahami ajaran Islam sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Selain itu, mereka juga melihat ketidakadilan di Jong Java, karena dalam kenyataannya, justru para misionaris Kristen dan orang-orang teosofi diberikan kesempatan yang begitu leluasa untuk beraktivitas di lingkungan Jong Java.

Raden Sjamsuridjal, selaku pimpinan Kongres Jong Java ke-7 termasuk ke dalam pihak yang menghendaki agar Islam dapat diajarkan di Jong Java. Namun, dikarenakan mayoritas suara kongres menghendaki hal yang berseberangan dengan keinginannya, Sjasmsuridjal lantas merasa bahwa Jong Java sudah tidak sesuai lagi dengan keyakinannya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk meninggalkan Kongres Jong Java bersama dengan sejumlah anggota lainnya, sebagai bentuk ketidaksepakatan dengan putusan kongres.

Sjamsuridjal bersama sejumlah kawan-kawannya merasa jengkel setelah Kongres Jong Java menolak usulan mereka. Deliar Noer dalam Mohamad Roem 70 Tahun (1978) menerangkan, bahwa di tengah perasaan kesal yang meliputi hati Sjamsuridjal bersama kawan-kawannya, Haji Agus Salim, seorang tokoh teras Partai Sarekat Islam (PSI) datang, menghampiri mereka di sebuah persimpangan jalan Yogyakarta pada malam tahun baru 1925.

Haji Agus Salim menghibur hati pemuda-pemuda tersebut supaya tidak merasa kesal. Menurutnya, usulan untuk menunaikan keinginan yang semula ditolak oleh kawan-kawannya di Jong Java masih tetap dapat diwujudkan. Rupanya perbincangan dengan tokoh teras PSI tersebut menjadi perantara munculnya tekad di antara pemuda tersebut untuk segera merealisasikan keinginan mereka.

Tepat pada 1 Janauari 1925, tidak lama setelah pertemuan dengan Haji Agus Salim, sebuah organisasi bernama Jong Islamieten Bond (JIB) resmi dibentuk oleh Sjamsuridjal bersama dengan kawan-kawannya. Melalui organisasi inilah kelak di masa yang akan datang, bermunculan kader-kader cemerlang yang menjadi pemimpin bangsa Indonesia, di antaranya adalah Wiwoho Purbohadijojo, Kasman Singodmedjo, Mohammad Natsir, Mohamad Roem, Jusuf Wibisono, Burhanuddin Harahap, dan Prawoto Mangkusasmito.

Sasaran dan Program JIB

JIB sebagai organisasi yang terbentuk akibat kekecewaan sekelompok pemuda Jawa memiliki visi besar untuk membumikan ajaran Islam di kalangan pemuda terpelajar. Sasaran anggota JIB adalah para pemuda terpelajar yang duduk di bangku sekolah menengah Belanda, seperti MULO, AMS, Kweekschool (sekolah guru), bahkan pelajar setingkat perguruan tinggi seperti STOVIA.

Alasan dipilihnya kalangan pemuda terpelajar sebagai anggota-anggota JIB tidak dapat dilepaskan dari realita sosial yang terjadi di kalangan mereka. Banyak sekali pemuda terpelajar beragama Islam saat itu yang tersekulerkan oleh sistem pendidikan Belanda. Selain itu, banyak sekali literatur pelajaran sekolah Belanda yang memberikan citra negatif atas ajaran Islam yang membuat pemuda-pemuda saat itu semakin jauh dengan agama mereka sendiri. Dampaknya, tak sedikit pemuda-pemuda yang menganggap remeh ajaran Islam, bahkan sebagian kecil di antaranya, terbukti terang-terangan menghina Islam.

Untuk mencegah sekaligus mengatasi salah paham para pemuda terhadap ajaran Islam, JIB tampil menjadi organisasi pemuda terpelajar yang giat dalam melaksanakan program-program dakwah kepada mereka. Ada pun, bentuk dakwah yang dimaksudkan kalangan JIB bukanlah yang telah biasa dilakukan di perkampungan-perkampungan, melainkan diselaraskan dengan penggunaan bahasa serta nalar intelektual pelajar-pelajar sekolah Belanda.

Menurut Deliar Noer, beberapa program yang dilaksanakan oleh JIB, ditujukan untuk membangkitkan rasa keingintahuan kalangan pemuda terpelajar terhadap Islam di perkotaan. Di antara program yang dilaksanakan JIB adalah menerbitkan majalah Het Licht (An-Noer) yang berbahasa Belanda, menggelar kursus, kegiatan olahraga, dan ceramah-ceramah rohani yang disesuaikan dengan style para pemuda kala itu.

Seiring waktu, pengaruh JIB semakin meluas. Dibentuknya Kern Lichaam (Badan Inti JIB) pada 1927 berkontribusi penting terhadap perkembangan JIB. Yudi Latief dalam Inteligensia Muslim dan Kuasa (2021) menerangkan bahwa tugas dari badan tersebut adalah:

“Badan ini merupakan semacam kelompok pemikir (brain trust) yang terdiri dari mereka yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam. Secara internal, lembaga ini diarahkan untuk mempromosikan dan memperbaiki pengajaran agama dalam perhimpunan. Secara eksternal, lembaga itu berfungsi  sebagai mata rantai penghubung antara JIB dan organisasi-organisasi Islam lainnya.”

 

Layaknya organisasi pemuda lain, JIB juga memiliki sayap organisasi yang mewadahi para pemudi. Jong Islamieten Bond Dames Afdeling atau biasa disebut dengan JIBDA yang juga dibentuk pada 1925, menjadi semacam organisasi otonom JIB yang ditujukan untuk mewadahi para pemudi Islam terpelajar. Sebagai organisasi yang ditujukan untuk para pemuda terpelajar, program-prgram JIBDA sendiri berorientasi pada kegiatan untuk memajukan martabat perempuan Islam yang sejati dengan menggelar berbagai kursus tataboga dan kegiatan edukasi tentang perempuan dan anak.

Tak hanya itu, JIB juga memiliki organisasi kepanduan yang mencitrakan diri sebagai organisasi nasional. Organisasi kepanduan tersebut adalah Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Natipij ini merupakan salah satu organisasl di Hindia Belanda yang secara terang-terangan berani mengadopsi identitas kebangsaan Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka.

Menjaga Api Semangat JIB

JIB menjadi organisasi pemuda yang hanya mampu bertahan selama 17 tahun. Sejak dibentuk pada awal 1925, JIB terbukti telah menghasilkan sejumlah kader pemuda yang mumpuni walaupun jumlahnya tidak begitu banyak. JIB dipaksa bubar seiring masuknya Tentara Pendudukan Jepang ke Hindia Belanda pada 1942.

Saat ini JIB sudah terkubur di bawah reruntuhan sejarah, namun ia tetap menjadi salah satu entitas yang sangat penting untuk dipelajari kawula muda Indonesia. Sebagai organisasi yang ditujukan kepada generasi muda bangsa Indonesia, api semangat yang pernah dinyalakan JIB kini nampak telah diwarisi oleh sejumlah organisasi siswa maupun mahasiswa. Tugas besar dari generasi yang hadir belakangan ini ialah menjaga agar api semangat yang telah dinyalakan JIB dapat memberikan penerangan bagi kehidupan agama, bangsa, dan negara.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 7 8 5
Total views : 10735
Salam Silaturahmi