Info Terkini
Rabu, 24 Jul 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
31 Mei 2022

Mengenal Lebih Dekat Kisah Perjuangan Jenderal Soedirman, Pahlawan yang Berjuang dalam Keadaan Sakit

Selasa, 31 Mei 2022 Kategori : Qolamunetizen / Sejarah

Jenderal Soedirman merupakan salah satu tokoh yang sangat disegani dan berjasa bagi kemerdekaan Indonesia. Rasanya tidak mungkin jika kita tidak mengenal salah satu pahlawan yang memiliki andil besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu pejuang dan pemimpin yang mampu menjadi teladan bangsa ini, pribadinya yang selalu  teguh pada prinsip dan keyakinan serta selalu mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadinya.

Seorang Jenderal yang memiliki nama lengkap Raden Sudirman ini adalah orang asli Jawa Tengah yang berasal dari keluarga yang terpandang. Dilahirkan pada 24 Januari 1916 di Desa Bodaskarangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, dengan ayahnya yang bernama Karsid Kartawiradji dan ibunya yang bernama Siyem. Sejak bayi, ia telah diangkat sebagai anak dan di besarkan oleh pamannya sendiri yang bernama Cokrosunaryo karena orang tua Sudirman ini mengadopsi anaknya tersebut ke pamannya demi masa depan dari Sudirman itu sendiri karena pamannya lebih mapan yang mungkin bisa memenuhi segala kehidupan Sudirman. Sebagai anak angkat, Sudirman sudah mendapatkan pendidikan yang layak sejak kecil.

Diusia tujuh tahun, ia dimasukan di HIS (Hollandsch Indlandsche School) atau sekolah pribumi, selanjutnya pindah ke Taman Siswa pada tahun ke tujuh. Tahun berikutnya ia dipindahkan ke Sekolah Wirotomo dikarenakan Taman Siswa ditutup oleh Ordonansi Sekolah Liar karena terbukti bahwa sekolah tersebut tidak terdaftar secara resmi. Setelah selesai menjalani pendidikan dasar dan menengah ini Sudirman melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu HIK (sekolah guru) Muhammadiyah Solo. Ia terkenal aktif mengikuti organisasi semasa pendidikannya disana, ia tercatat sebagai anggota organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Banyak sekali pelajaran yang ia dapatkan setelah mengikuti organisasi tersebut.

Setelah itu, pada tahun 1936, Sudirman memutuskan untuk meminang Alfiah, seorang putri dari seorang pengusaha batik kaya bernama Raden Sastroatmojo, yang menarik Alfiah merupakan teman dari Sudirman semasa bersekolah dulu. Sebelum bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA), ia mengabdikan diri untuk mengajar pada sekolah dasar Muhammadiyah di Cilacap sekaligus menjadi penanggung jawab organisasi Prauka Hizbul Wathan. Ia mulai melanjutkan karirnya sebagai seorang prajurit. Pada bulan Oktober 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang mengumumkan pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (PETA), Sudirman pun ditunjuk untuk mengikuti latihan PETA di Bogor. Selesainya pendidikan, ia diangkat menjadi Daidanco (komandan batalyon) yang berkedudukan di Kroya, Banyumas, Jawa Tengah. Disanalah ia pun memulai karirnya sebagai prajurit.

Namun setelah proklamasi kemerdakaan Indonesia, Jepang membubarkan PETA, seluruh anggota PETA ini disuruh pulang kampung halamannya masing-masing. Sehingga pada tanggal 22 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), Sudirman beserta beberapa rekan-rekannya di PETA pun mendirikan cabang BKR ini di Banyumas pada sekitar akhir Agustus. Sudirman berupaya untuk menyiapkan kekuatan BKR di Banyumas ini bersama dengan Residen Banyumas Mr. Iskaq Tjokrosudisurjo serta beberapa tokoh lainnya. Hingga pada akhirnya Sudirman berhasil melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang secara damai. Komandan Batalyon Tentara Jepang Mayor Yuda menyerahkan senjata yang cukup banyak karena itupun BKR Banyumas ini merupakan kesatuan yang memiliki senjata terlengkap. Setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, kemudian Sudirman diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat kolonel. Melalui Konferensi TKR pada tanggal 12 November 1945, Sudirman pun terpilih menjadi Panglima Besar TKR atau Panglima Angkatan Perang RI. Walaupun pada saat itu Sudirman menderita penyakit tuberkulosis, ia tetap turun langsung dalam beberapa kampanye perang gerilya pada saat melawan pasukan NICA Belanda. Perang besar yang pertama kali dipimpin Sudirman pada saat itu adalah Perang Ambarawa melawan pasukan Inggris serta NICA Belanda dimana berlangsunng dari bulan November sampai Desember 1945.

Pada tanggal 12 Desember 1945, Sudirman ini turun langsung meluncurkan serangannya kepada semua pasukan Inggris di Ambarawa, pertempuran yang dilakukan selama lima hari itu membuahkan hasil karena diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Tak lama kemudian pada tanggal 18 Desember 1945, Presiden Soekarno memberikan pangkat Jenderal terhadap Sudirman dan dilantik pasca kemenangan Sudirman dalam perang Ambarawa tersebut. Menariknya, Sudirman memperoleh pangkatnya sebagai Jenderal ini bukan melalui sistem militer ataupun pendidikan tinggi lainnya, namun karena prestasinya tersebut.

Disaat terjadinya Agresi Militer II Belanda, Ibukota Indonesia pun dipindahkan ke Yogyakarta kala itu karena Jakarta sudah diduduki oleh tentara Belanda. Hingga akhirnya Sudirman kembali memimpin pasukannya untuk menyerang serang Belanda II untuk membela Yogyakarta. Dalam perlawanannya tersebut sebenarnya Sudirman ini sedang dalam kondisi yang sangat lemah karena penyakit tuberkulosis yang ia deritanya, namun hal itu tidak menghilangkan semangatnya.

Dia terjun ke medan perang bersama pasukannya dalam keadaan ditandu, tetap memimpin para tentaranya untuk melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda ini secara gerilya. Disisi lain, penyakit yang dialami Soedirman ini semakin parah, paru parunya yang berfungsi hanya tinggal satu, ditambah lagi Yogyakarta kembali dikuasi Belanda meskipun sempat dikuasai juga oleh tentara Indonesia saat itu. Presiden Soekarno dan Hatta beserta anggota-anggotanya pun juga sempat ditangkap oleh tentara Belanda. Hal ini membuat situasi kembali genting. Sudirman dengan keadaan di tandu pun langsung berangkat beserta pasukannya dan mereka kembali melakukan perang gerilya. Sudirman tetap berjuang meskipun ia berpindah-pindah selama tujuh bulan melewati hutan dan guung dalam keadaan sakit dan lemah bahkan ia tanpa pengobatan dan perawatan medis.

Pada tanggal 1 April 1949, Sudirman tinggal di desa Sobo, Solo, Jawa Tengah. Walaupun kondisinya yang sedang sakit, ia tetap memberikan petunjuk serta strateginya kepada pasukannya. Hingga pada akhirnya perjuangannya tidak sia-sia, perang gerilya tersebut akhirnya berhasil mematahkan serangan dari Belanda hingga pada akhirnya Belanda pun mengajak untuk berdiskusi dan berunding bersama. Hingga akhirnya, Sudirman pun kembali lagi ke Yogyakarta untuk  melakukan perundingan dengan Belanda tersebut.

Hingga pada akhirnya tanggal 10 Juli 1949, Jenderal Soedirman dan pasukannya kembali lagi ke Yogyakarta, ia disambut hangat oleh parade militer yang diadakan di alun-alun Yogyakarta dengan penuh suasana haru karena mereka yang telah bergerilya dengan gagah dan berani tak urung dari mereka juga meneteskan air mata mereka melihat kondisi fisik Soedirman yang kurus dan pucat namun tetap berjuang demi bangsa Indonesia.

Selanjutnya pemerintah Indonesia dan Belanda ini pun terus mengadakan konferensi panjang selama beberapa bulan dan hingga akhirnya berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Sudirman pun pada saat itu juga diangkat sebagai Panglima Besar TNI. Tangis haru tak bisa dicurahkan oleh rakyat Indonesia kala itu karena perjuangan seorang Jenderal Soedirman sekalipun dalam kondisi lemah pada saat itu ternyata tetap bisa mempertahankan kedaultan Indonesia.

Hingga pada akhirnya Sudirman pun meninggal dunia pada 29 Januari 1950 di Magelang, Jawa Tengah karena penyakit tuberkulosisnya yang semakin parah. Ia dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Ia pun juga dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan hingga mendapatkan gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta dengan bintang lima pada tahun 1997. Namanya pun juga dijadikan sebagai salah satu nama jalan utama di Jakarta. Perjuangan yang cukup luar biasa dari salah satu tokoh prajurit Jenderal Soedirman ini yang dalam kondisi sakit namun tetap berjuang dengan segala pengorbanan untuk mempertahankan Indonesia.

 

Sumber : Susilo, Agus. (2018). Sejarah Perjuangan Jenderal Soedirman dalam mempertahankan Indonesia (1945-1950). Jurnal Historia, 6(1).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 7 8 6
Total views : 10736
Salam Silaturahmi