Info Terkini
Selasa, 23 Jul 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
22 Mei 2022

Pendirian Ponpes Santri Asromo Majalengka

Minggu, 22 Mei 2022 Kategori : Qolamunetizen / Sejarah

Pada tanggal 29-30 Agustus 1931 tepatnya pada saat kongres Persyarikatan Oelama ke IX di Majalengka Abdul Halim yang merupakan seorang tokoh asal Majalengka menyampaikan gagasannya mengenai pendidikan terkhusus di Majalengka, serta pentingnya perbaikan pendidikan di Majalengka, karena bagi beliau pendidikan merupakan  hal yang sangat penting dan tentunya melalui pendidikan bidang-bidang kehidupan yang lain dapat diperbaiki seperti bidang ekonomi dan sosial.

Falah dalam Riwayat Perjuangan Abdul Halum (2008) menerangkan, Abdul Halim mengungkapkan pentingnya perbaikan pendidikan, karena pada waktu itu  pendidikan sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan masyarakat, pendidikan yang diusung oleh pemerintah kolonial berfokus kepada urusan dunia saja, sementara pendidikan Islam tersisihkan . Kongres tersebut mendapatkan perhatian yang cukup baik dari masyarakat sekitar dan beberapa tokoh, terlihat dari banyaknya partisipan yang hadir sejumlah 500 orang berasal dari berbagai kalangan perempuan dan laki-laki.

Selain hal tersebut  Abdul Halim juga  beranggapan bahwa pendidikan tidak cukup membahas mengenai agama dan pengetahuan saja, melainkan juga keterampilan yang harus dimiliki oleh para murid atau santri seperti keterampilan beternak, bertani, pertukangan, dan perdagangan. Konsep yang dimiliki Abdul Halim tersebut sering disebut sebagai konsep As-Salam dan konsep Santri Lucu. Melihat ide dan gagasan Abdul Halim tersebut para peserta kongres juga setuju terhadap usulan Abdul Halim dan memberikan amanat kepada Abdul Halim untuk mendirikan lembaga pendidikan.

Pada saat mengemban amanah yang diberikan kepadanya, untuk mendirikan lembaga pendidikan, beliau mendapat kesulitan seperti sulit mencari tempat untuk mendirikannya yang disebabkan kekurangan dana, akan tetapi atas bantuan M. Arjasubrata yang membelikan tanah dan kemudian menyerahkannya kepada Abdul Halim untuk mendirikan lembaga pendidikan. Sehingga pada bulan April 1932  didirikanlah lembaga pendidikan Islam yakni Santri Asromo, nama tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuno yang memiliki arti “tempat yang sunyi dan damai”, berlokasi di Desa Pasirayu Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka. Falah menerangkan tempat yang dipilih beliau jauh dari keramaian kota, hal ini disebabkan karena jika pendidikan diselenggarakan di dekat kota maka akan banyak godaan untuk para santri dalam mencari ilmu, apalagi melihat kondisi moral masyarakat yang semakin hari semakin menurun.

Kemudian sebagai tindaklanjut dari konsep tersebut, diadakanlah sebuah kongres Persyarikatan Oelama ke X pada tanggal 14-17 Juli 1932 dan membahas mengenai konsep pendidikan yang akan diterapkan di Santri Asromo di antaranya:

  1. Santri Asromo menerapkan sistem pondok dan santri diberi pelajaran agama, pengetahuan umum dan keterampilan.
  2. Para santri dididik menjadi santri yang mandiri dengan mengajarkan berbagai keterampilan agar kelak setelah lulus dapat hidup mandiri dan membantu orang lain yang kesulitan.
  3. Lama pendidikan di Santri Asromo selama 5-10 tahun, para santri diharuskan membawa beras sebanyak 30 kati dan uang sebesar 60 sen setiap bulannya. (Saefullah,2017:15).

Saefullah dalam K.H. Abdul Halim dan Gagasan Pendidikan Ekonomi Berbasis Pesantren (2017) bahwa santri Asromo terdiri dari lembaga pendidikan Islam dan bengkel kerja untuk menyalurkan keterampilan santri sehingga Santri Asromo disebut juga Balai Pamulangan Pondok Mufidat Santri Asromo. Santri Asromo juga merupakan puncak dari pemikiran Abdul Halim dalam bidang pendidikan, hal ini disebabkan segala bentuk konsep As-Salam dan konsep Santri Lucu benar-benar diterapkan oleh Abdul Halim.

Pada awal pendiriannya Santri Asromo dibangun seperti sebuah tajug, berbahan dasar bambu dan beratap ilalang yang memiliki luas hanya 27 m. Tajug tersebut hanya digunakan untuk tempat belajar, belum difungsikan untuk asrama. Abdul Halim membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjadikan Santri Asromo sebagai lembaga pendidikan yang kompleks. Maka sekitar tahun 1936 Santri Asromo baru digunakan sebagai tempat belajar (pesantren).

Pada perkembangannya Santri Asromo mulai melakukan pembangunan seperti memperbaiki masjid pada tahun 1935. Kemudian pada tahun 1938 membangun ruang belajar dan membangun sebuah tugu yang digunakan untuk menentukan waktu shalat, dikenal dengan nama tugu Benjet. Selanjutnya perkembangan pembangunan Santri Asromo sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang, sehingga pembangunan dilakukan lagi pada tahun 1952 Santri Asromo juga mengembangkan pembangunannya dengan membangun ruang belajar, pendopo, dan asrama putri.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 7 8 6
Total views : 10736
Salam Silaturahmi