Info Terkini
Rabu, 29 Mei 2024
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
14 Juli 2022

Agar Hidup Tidak Sempit dan Celaka

Kamis, 14 Juli 2022 Kategori : Khazanah dan Hikmah / Qolamunetizen

Suatu saat saya mendapat cerita dari salah satu mahasiswa kesehatan, “kang saya tuh punya teman di kampus, terus dia punya niatan ingin kuliah sambil menghafal Alquran. Tapi ibunya melarang dengan alasan nanti bakal ganggu kuliahnya, fokus aja kuliah untuk masa depan”, katanya.

Mendengar cerita tersebut, saya merasa miris. Pasalnya ternyata ada orang tua yang melarang anaknya untuk menghafal Alquran demi kepentingan dunia saja, yang katanya akan membuat bahagia dengan hal itu. Lagi-lagi banyak orang yang mengira bahwa kebahagiaan hanya dapat diukur dengan dunia saja, padahal di sisi lain ada pula orang yang merasa sempit dengan dunia. Dilain waktu ketika kami sedang mengadakan halaqah (kajian keislaman), ada seorang pengusaha datang seraya dia berkata, “ustadz saya ini seorang pengusaha bis, mobil saya banyak, tanahpun dimana-mana, tapi selama ini yang saya rasakan hanyalah kegelisahan dan rasa takut”.  Maka cerita ini memberikan penegasan kepada kita, bahwa dunia bukan tolak ukur kebahagiaan seseorang.

Sejalan dengan dua cerita di atas, bahwa Allah telah menjelaskan kepada kita lewat firman-Nya:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Taha : 124)

Syeikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir menjelaskan mengenai tafsiran ayat di atas, yakni berpaling dari agama Allah serta membaca kitab Allah dan beramal sesuai isi kandungannya. Kemudian kehidupan yang sempit adalah kehidupan yang sulit.

Maka sebaliknya, supaya hidup kita tidak sempit maka pelajarilah agama kemudian bacalah pedoman yang terdapat dalam Al-Qur’an.

“Maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-sa’di dalam Tafsir as-sa’di menjelaskan bahwa ketika kapan saja petunjuk itu datang kepada mereka, yaitu kitab-kitab dan para rasul, maka sungguh barangsiapa mengikutinya, mengikuti perintahnya, dan menjauhi larangannya, maka sesungguhnya dia tidak akan tersesat di dunia dan akhirat serta tidak akan celaka di dua tempat itu.

Di jalan raya kita akan menemukan rambu lalu lintas, maka seyogianya kita harus faham apa maksud lampu merah, kuning, dan hijau. Ketika merah kita harus berhenti dan hijau kita boleh jalan. Namun ketika ada orang yang melihat lampu merah dia terobos, maka setidaknya akan menimbulkan kecelakaan karena tertabrak pengguna jalan dari arah lawan. Begitupun ketika ada petunjuk jalan dilarang ambil jalan belok ke kanan karena ada jurang dan seharusnya mengambil jalan lurus, maka seseorang yang malah dia mengambil jalan belok ke kanan akan celaka masuk jurang. Begitupun dengan kita, ketika tidak faham terhadap pedoman yang terdapat dalam Alquran bahkan abai terhadapnya, padahal jelas itu merupakan petunjuk bagi hidup kita, maka dipastikan hidup akan celaka dan tidak akan bahagia di dunia dan akhirat.

PERBANYAKLAH DZIKIR MELALUI BACA ALQURAN, NISCAYA HIDUP BAHAGIA DAN SELAMAT.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar

 

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Ahlan wa Sahlan

0 0 4 4 7 4
Total views : 10208
Salam Silaturahmi