Info Terkini
Jumat, 06 Nov 2026
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
27 Agustus 2025

Penerapan Kasih Sayang dalam Proses Pembelajaran di Sekolah

Rabu, 27 Agustus 2025 Kategori : Pendidikan dan Literasi / Qolamunetizen

Oleh : Afiyatun Kholifah
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Singaperbangsa Karawang

Kita mudah menemukan kata kasih sayang dalam tujuan pendidikan, sambutan resmi, dan poster di ruang kelas. Namun, seberapa jauh nilai itu tampak dalam cara guru menegur, siswa berdiskusi, atau sekolah menyelesaikan konflik? Pendidikan Agama Islam mengajarkan rahmah dan mahabbah sebagai nilai penting dalam hubungan manusia. Tantangannya bukan terletak pada ketiadaan pengetahuan tentang kebaikan, melainkan pada jarak antara pengetahuan dan tindakan. Anak bisa menjelaskan pentingnya menyayangi teman, tetapi masih ikut menertawakan seseorang yang dianggap berbeda. Di sinilah internalisasi nilai menjadi kebutuhan yang mendesak.

Rahmah dapat dipahami sebagai belas kasih yang mendorong perhatian dan kebaikan kepada orang lain, sedangkan mahabbah menunjuk pada cinta yang memberi dasar kedekatan serta kepedulian. Keduanya tidak cukup diperkenalkan melalui definisi. Peserta didik perlu mengalami bagaimana kasih sayang diterapkan tanpa menghilangkan ketegasan. Guru yang menegur kesalahan dengan adil, memberi kesempatan memperbaiki diri, dan menghindari penghinaan sedang memperlihatkan pesan moral secara langsung. Keteladanan seperti ini sering lebih membekas daripada ceramah yang panjang, karena anak menyaksikan nilai itu bekerja dalam hubungan sehari-hari.

Internalisasi bergerak melalui beberapa lapisan. Pertama, siswa mengenali arti nilai dan alasan keagamaannya. Berikutnya, mereka diajak merasakan akibat suatu tindakan bagi orang lain. Terakhir, mereka diberi kesempatan mempraktikkan pilihan yang mencerminkan kasih sayang. Misalnya, pada pembahasan adab bertetangga, guru tidak berhenti pada hafalan hadis. Siswa dapat memetakan kebutuhan warga sekitar, merancang bantuan yang layak, lalu merefleksikan pengalaman tersebut. Pengetahuan menjadi dasar, empati memberi daya gerak, dan tindakan membantu nilai itu berkembang menjadi kebiasaan.

Budaya sekolah ikut menentukan keberhasilan proses tersebut. Tidak realistis berharap siswa saling menghormati jika lingkungan membiarkan perundungan atau mempermalukan mereka yang kesulitan belajar. Aturan disiplin seharusnya melindungi hak semua pihak, bukan menjadi sarana melampiaskan kemarahan. Sekolah juga dapat membangun kebiasaan sederhana: menyapa dengan sopan, membantu teman yang tertinggal, memberi ruang musyawarah, dan mengapresiasi sikap peduli. Pembiasaan yang konsisten menunjukkan bahwa kasih sayang bukan peristiwa seremonial, tetapi cara hidup yang dipelihara bersama.

Kasih sayang tidak sama dengan membolehkan semua perilaku. Dalam pendidikan, batas yang jelas justru diperlukan agar setiap anak merasa aman. Seorang guru dapat menolak kecurangan sekaligus mendampingi siswa memahami kesalahannya. Ia dapat menghentikan perundungan tanpa mempermalukan pelakunya di depan umum. Sikap seperti ini menyeimbangkan keadilan dan kepedulian. Pendidikan yang terlalu keras berisiko memunculkan kepatuhan karena takut, sedangkan pendidikan tanpa batas berisiko mengabaikan tanggung jawab. Rahmah membantu pendidik menemukan jalan yang tegas sekaligus manusiawi.

Keterlibatan siswa dalam merumuskan aturan kelas juga dapat memperkuat internalisasi nilai. Ketika mereka berdiskusi tentang cara menanggapi teman yang melakukan kesalahan, muncul kesempatan menimbang keadilan, empati, dan tanggung jawab. Aturan yang disepakati bukan berarti seluruh keinginan siswa dipenuhi. Guru tetap menjaga batas pendidikan, tetapi penjelasan mengenai alasan aturan membuat siswa lebih memahami maknanya. Pengalaman ini membantu mereka melihat bahwa rahmah tidak berhenti pada perasaan pribadi; ia memengaruhi cara sebuah kelompok membuat keputusan dan melindungi anggotanya.

Di era digital, nilai yang sama berlaku saat siswa berkomentar, membagikan foto, atau menanggapi perbedaan pendapat. Guru dapat mengajak mereka menilai apakah suatu unggahan mendatangkan manfaat atau justru mempermalukan orang lain. Refleksi semacam itu menghubungkan pelajaran agama dengan dunia yang benar-benar mereka hadapi. Keberhasilan pembelajaran kasih sayang bukan diukur dari seberapa sering kata rahmah diucapkan. Ukurannya tampak ketika anak lebih mudah meminta maaf, lebih peka terhadap kesulitan teman, dan lebih bertanggung jawab atas tindakannya. Pendidikan agama menjadi hidup ketika kasih sayang berubah dari konsep menjadi karakter.

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

…

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Salam Silaturahmi