Info Terkini
Jumat, 06 Nov 2026
  • Website berisi tulisan-tulisan Agus S. Saefullah beserta para penulis lainnya
31 Juli 2026

Ketika Madrasah Menghadirkan Kegembiraan dalam Belajar Membaca

Jumat, 31 Juli 2026 Kategori : Pendidikan dan Literasi / Qolamunetizen

Oleh : Jaenal Abidin
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Singaperbangsa Karawang

Jaenal AbidinBagi anak yang baru masuk sekolah, membaca merupakan petualangan besar. Huruf yang tampak sederhana bagi orang dewasa masih menjadi simbol yang perlu dikenali, dibunyikan, lalu dirangkai. Ada anak yang cepat memahami, ada pula yang membutuhkan pengulangan lebih banyak. Tantangannya muncul ketika latihan yang diperlukan itu terasa membosankan. Anak mulai kehilangan perhatian, sementara guru harus menemukan cara agar mereka bersedia mencoba kembali tanpa merasa terpaksa atau takut melakukan kesalahan.

Pengalaman di MI Bahrul Ulum Bengle, Karawang, memperlihatkan kemungkinan menarik untuk menjawab tantangan tersebut. Melalui aplikasi Enuma, latihan membaca dikemas menjadi kegiatan interaktif dengan tingkatan, tantangan, penghargaan, dan tanggapan langsung atas jawaban anak. Kegiatan mengenali huruf hingga membaca kalimat sederhana menjadi perjalanan yang dapat diikuti sedikit demi sedikit. Anak memiliki tujuan yang dekat, mengetahui kemajuannya, dan memperoleh kesempatan mencoba lagi ketika jawabannya belum tepat.

Penelitian yang kami lakukan di madrasah tersebut melibatkan kepala madrasah, tiga guru, dan dua belas siswa kelas satu. Selama dua bulan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026, kami mengamati kegiatan pembelajaran, melakukan wawancara, serta menelaah catatan perkembangan belajar. Dari proses itu, terlihat bahwa daya tarik teknologi menjadi lebih bermakna ketika dipadukan dengan latihan bertahap dan pendampingan guru. Perubahan tampak pada keterlibatan anak serta perkembangan kemampuan membaca awal mereka.

Madrasah menyediakan tiga puluh tablet untuk mendukung pembelajaran literasi dan numerasi. Selama periode penelitian, kegiatan berbantuan Enuma berlangsung sekitar satu jam setiap hari dengan pengawasan guru. Materinya mencakup bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Dalam pembelajaran membaca, anak berhadapan dengan aktivitas yang bergerak dari pengenalan huruf, hubungan huruf dengan bunyi, penggabungan suku kata, hingga kata dan kalimat sederhana. Susunan tersebut membantu latihan berjalan mengikuti tahapan kemampuan anak.

Daya tarik kegiatan ini dapat dipahami melalui istilah gamifikasi, yaitu penggunaan unsur permainan dalam kegiatan yang memiliki tujuan tertentu. Dalam pembelajaran, unsur itu dapat berupa tingkatan, tantangan, penghargaan, serta penanda kemajuan. Tujuan pendidikannya tetap jelas, misalnya mengenali bunyi atau membaca kata. Unsur permainan membuat perjalanan menuju tujuan tersebut lebih menarik. Anak memperoleh alasan untuk terus berlatih karena selalu ada tantangan berikutnya yang terasa mungkin diselesaikan.

Bagi pembaca pemula, perasaan mampu merupakan modal penting. Tugas yang terlalu sulit dapat membuat anak cepat menyerah, sedangkan tugas yang terlalu mudah mudah kehilangan daya tarik. Tingkatan belajar memberi jalan tengah dengan menghadirkan tantangan secara bertahap. Ketika satu kegiatan berhasil diselesaikan, anak memiliki pengalaman keberhasilan yang dapat dibawa ke kegiatan berikutnya. Kemajuan kecil memperoleh tempat, termasuk keberhasilan membedakan huruf atau menggabungkan bunyi yang sebelumnya masih membingungkan.

Tanggapan langsung dari aplikasi juga membantu menjaga alur belajar. Anak dapat mengetahui apakah jawabannya tepat dan memperoleh kesempatan memperbaikinya. Dalam proses membaca awal, kesempatan semacam ini penting karena kesalahan merupakan bagian dari latihan. Anak perlu mencoba, mendengar kembali, mencocokkan, lalu mengulang. Ketika proses tersebut berlangsung dalam suasana yang menyenangkan, pengulangan lebih mungkin diterima sebagai tantangan. Latihan yang serupa pun dapat dijalani tanpa selalu terasa sebagai pekerjaan yang sama.

Antusiasme itu muncul dalam keterangan guru dan siswa. Guru menjelaskan bahwa anak menjadi bersemangat ketika menggunakan Enuma, terutama saat melihat posisi pada papan peringkat. Sebagian bahkan meminta melanjutkan kegiatan setelah waktu yang dijadwalkan berakhir. Seorang siswa menggambarkan pengalaman belajarnya seperti bermain sehingga ia ingin meneruskan ke tingkat berikutnya. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa cara kegiatan disajikan turut memengaruhi kemauan anak untuk bertahan dalam latihan membaca.

Namun, antusiasme membutuhkan arah. Lamanya anak menggunakan tablet belum cukup untuk menjelaskan apa yang telah dipelajarinya. Guru tetap perlu memperhatikan apakah anak semakin mengenali huruf, mampu menghubungkan simbol dengan bunyi, atau mulai membaca kata secara lebih mandiri. Papan peringkat dapat menjadi pemantik semangat, sedangkan ukuran perkembangan belajar perlu kembali pada kemampuan membaca. Dengan perhatian tersebut, penghargaan digital dapat mendukung tujuan pembelajaran secara lebih terarah.

Temuan penelitian memperlihatkan perkembangan kemampuan membaca awal secara bertahap. Dalam pengamatan, siswa menjalani latihan mengenali huruf, menghubungkan huruf dan bunyi, membaca suku kata, kemudian kata dan kalimat sederhana. Mereka juga menunjukkan kemandirian dan konsistensi dalam menyelesaikan kegiatan. Perkembangan ini didukung oleh hasil wawancara serta catatan kemajuan dari aplikasi. Karena penelitian menggunakan studi kasus kualitatif, hasilnya memberi gambaran proses dalam konteks madrasah tersebut, dengan peluang untuk diperiksa lebih lanjut di tempat lain.

Hal yang patut diperhatikan ialah hubungan antara kesenangan dan ketekunan. Membaca membutuhkan latihan berulang, sementara anak memerlukan pengalaman yang membuatnya bersedia menjalani pengulangan itu. Gamifikasi membantu mempertemukan keduanya melalui tujuan kecil dan kemajuan yang terlihat. Anak dapat merasakan bahwa usahanya menghasilkan sesuatu. Dari sini, motivasi belajar memperoleh pijakan yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari, yaitu mencoba, berhasil, menghadapi kesulitan baru, lalu berusaha kembali dengan bantuan yang sesuai.

Kesempatan belajar sesuai kecepatan masing-masing juga memiliki arti besar. Dalam satu kelas, kemampuan membaca anak dapat beragam. Sebagian masih membutuhkan penguatan huruf dan bunyi, sedangkan yang lain sudah siap membaca kata. Aktivitas bertingkat memberi ruang bagi perbedaan tersebut. Guru dapat mengamati bagian yang masih sulit dan memberikan bantuan secara lebih tepat. Dengan demikian, perkembangan anak dilihat sebagai perjalanan yang perlu didampingi, dengan kebutuhan yang dapat berbeda pada setiap tahap.

Di tengah penggunaan aplikasi, peran guru justru semakin terasa. Guru menyiapkan perangkat, menjelaskan kegiatan, membantu anak masuk ke aplikasi, memantau perkembangan, serta mendampingi ketika muncul kesulitan. Ada anak yang membutuhkan bantuan memahami instruksi, ada pula yang perlu penjelasan tambahan tentang bunyi atau kata. Kehadiran guru menghubungkan pengalaman pada layar dengan tujuan pembelajaran. Bantuan itu dapat dikurangi secara bertahap ketika anak mulai mampu menyelesaikan kegiatan dengan lebih mandiri.

Pengalaman ini memberi pelajaran bagi pembicaraan tentang teknologi pendidikan. Pengadaan perangkat perlu berjalan bersama perencanaan pembelajaran. Tablet akan lebih bermanfaat ketika guru mengetahui kemampuan yang hendak dikembangkan, aktivitas yang sesuai, dan tanda kemajuan yang perlu diamati. Dalam konteks MI Bahrul Ulum, aplikasi menjadi bagian dari kegiatan yang dijadwalkan dan didampingi. Hubungan antara perangkat, materi, guru, serta kebijakan madrasah membantu menjelaskan mengapa pembelajaran dapat berlangsung secara teratur.

Pelaksanaannya juga menghadapi kendala. Jumlah perangkat perlu disesuaikan dengan kebutuhan pengguna sehingga pengaturan jadwal dan pemakaian bersama menjadi penting. Koneksi internet yang tidak stabil sesekali mengganggu akses kegiatan. Kemampuan guru dalam menggunakan teknologi pun beragam. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberlanjutan program membutuhkan perhatian pada hal-hal praktis. Perangkat harus dapat digunakan, kegiatan perlu memiliki alur yang jelas, dan guru membutuhkan dukungan ketika menghadapi persoalan teknis maupun pembelajaran.

Karena itu, pengembangan kemampuan guru sebaiknya mencakup cara menggunakan aplikasi sekaligus cara membaca perkembangan anak. Guru perlu memahami informasi kemajuan yang tersedia, mengenali kesulitan yang berulang, dan menentukan bantuan yang sesuai. Catatan digital akan lebih berguna ketika dipadukan dengan pengamatan langsung. Anak yang menyelesaikan kegiatan dengan cepat, misalnya, tetap perlu diperhatikan pemahamannya. Sementara itu, anak yang berulang kali mencoba dapat membutuhkan penjelasan berbeda agar memperoleh jalan menuju keberhasilan.

Penggunaan gambar, suara, dan tulisan membuka kesempatan belajar melalui beberapa bentuk informasi. Anak dapat melihat simbol sambil mendengar bunyinya, kemudian memberikan respons melalui kegiatan interaktif. Hubungan tersebut membantu latihan membaca menjadi lebih konkret. Meski demikian, tampilan yang menarik perlu tetap mendukung materi. Animasi dan penghargaan sebaiknya membantu perhatian anak pada huruf, bunyi, serta makna. Guru memiliki peran untuk memastikan pusat kegiatan tetap berada pada kemampuan yang sedang dikembangkan.

Pengalaman digital itu juga dapat dihubungkan dengan kegiatan membaca di luar aplikasi. Sebagai pengembangan pembelajaran, guru dapat mengajak anak menemukan huruf yang baru dipelajari pada buku cerita, kartu kata, atau benda di kelas. Anak yang mulai membaca kalimat sederhana dapat diberi kesempatan menceritakan kembali maknanya. Langkah semacam ini membantu menjadikan latihan pada layar bagian dari pengalaman berbahasa yang lebih luas. Kemampuan membaca kemudian memperoleh tempat dalam kegiatan sehari-hari.

Bagi madrasah yang ingin mencoba pendekatan serupa, langkah awal dapat dimulai dari kebutuhan anak. Guru perlu mengenali kesulitan membaca yang paling mendesak, kemudian memilih kegiatan yang sesuai dengan tujuan tersebut. Pelaksanaan dapat dilakukan secara bertahap sambil mengamati respons dan kemajuan siswa. Pengalaman MI Bahrul Ulum memberi bahan pertimbangan bahwa keberhasilan penggunaan teknologi berkaitan dengan keteraturan latihan, kesesuaian tantangan, dan kualitas pendampingan. Setiap madrasah dapat menyesuaikannya dengan sumber daya yang tersedia.

Pada akhirnya, harapan terbesar dari pembelajaran membaca ialah tumbuhnya anak yang mau dan mampu mendekati bacaan dengan percaya diri. Teknologi menyediakan salah satu jalan untuk membangun pengalaman itu. Tantangan bertahap membuat latihan terasa terjangkau, tanggapan langsung membantu perbaikan, dan pendampingan guru memberi rasa aman ketika anak menghadapi kesulitan. Ketika pengalaman tersebut hadir secara konsisten, belajar membaca dapat menjadi petualangan yang ingin dilanjutkan anak, satu huruf, satu kata, dan satu keberhasilan kecil setiap hari.

BUKU-BUKU

TULISAN AGUS S. SAEFULLAH
DAN KAWAN-KAWAN

…

Diterbitkan :
Hafidz Qur’an 4,5 tahun
“Tabarak seorang anak yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003 dinyatakan lulus oleh penguji dari..
Diterbitkan :
Ulama Gila Baca
“Imam Nawawi dalam sehari mampu membaca 12 buku pelajaran di hadapan guru-gurunya” Kesaksian Abu Hasan..

Agenda Terdekat

Trik menjadi seorang penulis adalah menulis, lalu menulis dan terus menulis.

Galeri Pelatihan

Salam Silaturahmi